Rabu, 13 Juni 2018

Rusmana, Penggerak Tanaman Obat di Tengah Kemiskinan Petani


SHNet, BANDUNG – Di desanya kemiskinan buruh tani merajalela. Keluarga prasejahtera banyak kesulitan urusan dasar ekonomi. Sanitasinya buruk, pendidikan anak-anak desa yang rendah. Ketiadaan peran negara dan minimnya kepemimpinan informal membuat makin pelik urusan desanya. Bagaimana hal itu harus diubah?

Petani dan pejuang. Rusmana menggerakkan warga desanya  menanam tanaman obat dan pangan untuk mengentaskan warga desanya dari jeratan kemiskinan (Foto : Ani/SHNet)


Rusmana, anak petani desa. Lahir di Kampung Cisanggarung Desa Cikadut Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung 3 Maret 1979. Pria lulusan sekolah dasar ini pada dua tahun belakangan harus berpikir serius tentang nasib petani. Ia tak lagi harus berpikir kehidupan rumah tangganya sebagai yang utama karena sejak ayahnya, Tarya Sujeta, seorang Kepala Dusun III (RW 10, 11 dan 12) dan Ketua Kelompok Tani Makmur Desa Cikadut itu meninggal awal 2016 lalu, ia merasa tergerak untuk melanjutkan ayahnya melayani para petani.

Sejak ayahnya meninggal, Bekas Kernet Truk dan Tukang Ojek ini memegang posisi ketua Kelompok Tani Makmur Cikadut. Bersamaan dengan itu juga di kampungnya berdiri Yayasan Odesa Indonesia yang memiliki perhatian terhadap masalah kehidupan petani Kecamatan Cimenyan untuk urusan pangan, ternak, literasi dan teknologi. Dari situlah kemudian Rusmana juga aktif bergiat urusan sosial kemasyarakatan petani bersama pengurus Odesa Indonesia yang para pengurusnya terdiri dari Dosen, Jurnalis, dan kaum professional dari Kota Bandung.

“Di Odesa Indonesia saya mendapat job untuk mengembangkan pertanian Tanaman Obat. Ada grupnya, namanya Tanaman Obat Cimenyan (Taoci). Kegiatannya ada dua, yaitu pembibitan dan sosialisasi tanaman herba, Selain itu saya juga memegang urusan sosial untuk amal,” katanya kepada SH.Net, Senin 4 Juni 2018.

Ambil bagian dalam kegiatan pertanian itu Rusmana menemukan jalan baru dalam mengatasi kemiskinan di kampung-kampung Cikadut dan beberapa tetangga desanya, seperti Desa Mandala Mekar, Mekarsaluyu, Desa Cimenyan, Desa Sindanglaya dan Desa Mekarmanik. Ia mengawal budidaya tanaman obat dan tanaman pangan. 

Kelor (Moringa Oleifera) yang menjadi prioritas kegiatan diletakkan sebagai alat perbaikan kesehatan, ekonomi dan lingkungan. Ada juga pengembangan tanaman herbal lain seperti binahong, kumis kucing, daun afrika, dan lain sebagainya. Menurutnya, tanaman obat itu sangat penting dikembangkan di masyarakat karena masyarakat miskin butuh pangan yang berkualitas.

“Kita ini sudah kehilangan banyak aset tanaman yang dulu ada kini tidak ada seperti padi gogo. Pendidikan pertanian di Odesa Indonesia sangat aktif memanfaatkan internet dan terus melakukan ujicoba. Dari situlah banyak hal baru yang mudah dilakukan dan bisa diproses dengan cara yang paling mudah,” tuturnya.

Dengan inovasi penanaman, pembibitan, pasca panen dan marketing itu, Rusmana dan semakin semangat karena menemukan solusi baru. Bertani tidak semata urusan sayuran yang panen harus menunggu 3-4 bulan itupun belum karuan hasilnya. Sementara dengan model barunya yang dimulai dari pembibitan hingga urusan marketing, hasil ekonominya bisa lebih rutin. “Kecil kalau rutin dan kita rekap hitungannya dalam waktu empat bulan faktanya hasil lebih besar,” katanya.

Dalam pandangan pria beranak dua ini, sosialisasi tanaman baru sangat penting karena dengan tanaman baru itu model pasca panen dan marketingnya juga bisa lepas dari kebiasaan perdagangan petani. Sebab jika pertanian yang dikembangkan adalah sayuran akan urusan terjebak pada siklus perdagangan yang spekulatif dan tidak menguntungkan.

Sementara dengan tanaman obat menurut Rusmana justru bisa menciptakan market tersendiri. Ia mencontohkan misalnya, ada kegiatan pembibitan kelor dengan menyerap 7 petani dan juga bisa mendorong petani menanam kelor secara bertahap. Hasil penjualan bibit ini sudah tergolong menambah penghasilan petani antara Rp 400-600 ribu setiap orang tanpa perlu beralih dari pekerjaan semula. 

Belum lagi soal penghasilan pengolahan pasca panen menjadi teh kelor yang sangat laris dan selalu kurang pasokan karena belum seimbangnya antara hasil panen dengan kebutuhan konsumen di perkotaan. Kemudian bersama petani kelompok Himpunan Orang Tani Niaga (Hotani) juga ada kegiatan pertanian Bunga Matahari yang bibitnya sudah mulai menampakkan hasil.

Perbaikan pertanian pada keluarga petani Pra-Sejahtera (sangat miskin) menurut Rusmana diakui tidak mudah. Banyak petani yang melakukan usaha pertanian tanpa perhitungan dan ikut-ikutan. Tingkat pendidikan yang rendah dan tidak aktifnya pemerintah mengurus pertanian menyebabkan petani sulit mengembangkan diri. Sementara bersama Yayasan Odesa Indonesia petani diajarkan manajemen, pencatatan, dan juga pengolahan pasca panen, termasuk marketingnya. Dari situlah terasa bahwa dalam masa dua tahun terjadi banyak perubahan.

“Perbaikan petani itu harus disertai tindakan bersama. Tidak bisa hanya kursus atau anjuran. Mesti melalui pendampingan yang telaten dan serba melayani, termasuk melayani kebutuhan beras dan kebutuhan  lainnya,” terangnya.

Dalam pandangan Rusmana, kegiatan pertanian yang dilakukannya bukan semata untuk satu arah ekonomi, melainkan juga harus mengarah urusan pada dua aspek lainnya, yaitu perbaikan pendidikan dan kesehatan. Ia mencontohkan misalnya, pada budidaya kelor para petani tidak diajarkan berpikir sekadar mendapatkan uang dari panen, melainkan untuk kesehatan. Karena kandungan gizinya yang bagus, pohon yang dianjurkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar dikembangkan sebagai tanaman pangan itu benar-benar dirasakan manfaatnya oleh para petani desa. “Banyak orang sakit yang sembuh setelah mengonsumsi kelor, “ kata Rusmana.

Rusmana mencontohkan, ada ibu-ibu yang kena kanker payudara kini sudah sembuh. Ada yang stroke lama kini sudah membaik kesehatannya. Ada yang juga terkena diabetes juga membaik tubuhnya. Untuk urusan penguatan gizi anak-anak juga dirasakan sangat bagus karena anak-anak tidak mudah terserang flue atau masuk angin. Sedangkan dalam urusan pendidikan, tanaman obat seperti ini bisa bermakna lebih jauh, yaitu mengenalkan setiap potensi tanaman tidak sekadar bernilai dagang, melainkan bernilai gizi.

“Seperti tanaman pohpohan misalnya, petani tahu itu bisa dimakan. Tapi kebanyakan tidak ngerti kandungan gizinya. Setelah kita sosialisasikan manfaat dari kandungan gizinya, mereka jadi lebih semangat mengonsumsinya,” jelasnya.

Setelah kelor berjalan, kini Rusmana dan teman-teman petani lainnya sedang menyiapkan penanaman Bunga Matahari yang memiliki nilai gizi dan kesehatan. Tanaman Sorgum dan Buah Tin juga disiapkan semaksimal mungkin.

“Kita mulai dari nol semua, yaitu pembibitan. Buat saya kegiatan pertanian bukan sekadar menanam, melainkan harus dari hulu, yaitu bibit, kemudian tanam ladang, dan pasca panen serta marketing. Itulah mengapa kita memilih kegiatan bersifat intensif, kecil tetapi terurus. Sedikit lambat tapi jelas hasilnya,” jelasnya. (Ani)

Kamis, 15 Maret 2012

Growing Organic Rice a Bucket at a Time in East Jakarta

Grace Susetyo |
The Jakarta Globe, March 11, 2012
Source : Growing Organic Rice a Bucket at a Time in East Jakarta


Middle-school teacher Suhri helps students tend to rice plants. His Bucket Rice Club can produce three harvests a year, and each bucket can produce 100 to 300 grams of grain. (Photo courtesy of SMPN 209).

There are bright forecasts for Indonesia’s economy this year, but the prospects for its rice fields appear far dimmer. As the economy booms along, more and more rice fields are converted to housing estates and industrial areas, which could spell trouble for a country that lives on the grain as one of the biggest consumers of rice in the world.

A possible solution might lie in the hands of some teenagers. A group of junior high school students from SMPN 209 in East Jakarta is proving that organic rice can be grown in an urban setting by well-dressed kids.

The materials? Earth, cattle manure, buckets, water and Ciherang rice seedlings. The variety is ideal because it can be planted during both the rainy and the dry seasons. Additionally, the rice can be harvested about 110 days after the seeds are planted, which means there are about three harvests a year.

The cost? About Rp 5,000 (55 cents) per bucket, from which 100 to 300 grams of grains are produced. Recently, 30 kilograms of rice were harvested from SMPN 209’s 300-bucket project. Not bad for tweens aged 11 to 14, many of whom are first-timers at raising crops.

Suhri is the proud Bahasa Indonesia teacher behind the project. He learned about Ciherang rice back in 2007 on a trip home to Pangandaran in West Java, when his brother described a similar project going on in the village.

It was perfect timing because around that time Suhri had taken charge of SMPN 209’s re-vegetation project. Aside from planting rice, Suhri had very little farming experience but he was eager to make the project unique and memorable for his students.

Back in Jakarta, Suhri experimented with planting rice in buckets in his own yard before introducing the project at school. He quickly drew the students’ curiosity and interest and, gradually, their active participation. The project now sits on the concrete rooftop of the school’s musholla (prayer house), the fruits of the work of about 300 students.

“The Bucket Rice Club is so different from our other ones,” said Salsabila. a seventh grader. “Before, I thought that cultivating rice was dirty work that could only be done in a wet field. But here, we plant rice dressed in ties and shoes.”

Buckets are key to making rice cultivation much more efficient. “All the nutrients and water that the crop needs stay in there during its life cycle,” Suhri said. “This solves problems like the high cost of fertilizers, irrigation and agricultural pollution resulting from chemical runoff during rains.”

Although ripe crops occasionally attract birds, Suhri said pests were not a serious problem. To protect the plants from unwanted attention, they can be covered with a protective net or even relocated to a safer spot. This means that no pesticides are needed in the cultivation process.

Additionally, the low maintenance method means that even busy urbanites can squeeze raising crops into their hectic schedules. The project demonstrates the relative ease of producing organic rice from the comfort of a high-rise apartment’s balcony in Jakarta.

In the interest of creating solutions for a greener world, the Bucket Rice Club has also started planting some crops in recycled containers, such as coconut shells and plastic bottles. In addition to rice, the kids are currently experimenting with growing kangkung (water spinach).

Despite the relative ease and simplicity of the project, it does require diligence and perseverance. Suhri said the highlight of his experience had been teaching his students skills and values that will last a lifetime, such as respect for farmers and making responsible choices that help keep the earth green.

Salsabila said her experience cultivating rice had made her appreciate how hard farmers work. “Before, I used to take rice for granted and let leftovers go to waste,” she said. “Now I only take what I can finish.”

Suhri said he hoped SMPN 209’s Bucket Rice Club would become a model for the food security solution in Indonesia.

“In the future, I hope this club can grow to the point that we can provide enough rice for SMPN 209 students,” he said. “Other schools interested in bringing the Bucket Rice Project to their yards are more than welcome to come and learn from us.”

Tautan :

1. Panen Padi bersama, di SMPN 209 Jakarta.

2. Siswi SMPN 209 Jakarta Tanam Padi di Sekolah


Wonogiri,15/3/2012

Jumat, 09 Maret 2012

In East Java, home gardens help women cut food spending

Elly Burhaini Faizal
The Jakarta Post, Jakarta |
Fri, 03/09/2012 8:08 AM



A government initiative has helped women in Pacitan, East Java, reduce their individual household monthly food spending by Rp 195,000 (US$21.45) to Rp 700,000.

The program, Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), was designed to help rural women become self-sufficient in food production.

“Empowering rural women will be critical, as they are crucial partners in fighting hunger and poverty due to their key role in the food supply chain,” Yusni Emilia Harahap, a staff expert on environmental issues at the Agriculture Ministry, said.

The program promotes home gardens as a way for women to meet daily needs while reducing food expenditures.

“The model has been replicated in several areas and we hope that it can be expanded further with support from the Agriculture Ministry and other stakeholders who are concerned about food security,” Yusni said, adding that the project had been implemented at the local level in Central Java, East Java and South Sulawesi.

If successful and home gardens become widespread, the program would increase the nation’s food production and security, she added.

Yusni said that the agriculture sector was facing a heavy burden due to increased demand for food from a growing population.

“Amid limited food resources, it is crucial for us to maintain food sufficiency by making use of local resources,” she said during a discussion entitled “Empower Rural Women: End Hunger and Poverty”.

The program was held by the United Nations Information Center (UNIC) and the UN Population Fund (UNFPA) to mark International Women’s Day on March 8.

According to data from UNFPA, rural women comprise 25 percent of the world’s population, while the Food Agriculture Organization (FAO) said that women comprised half the global population of farmers.

However, women lacked resources, including financing, and less than 20 percent of all land owners were women, according to the reports.

Citing Agriculture Ministry data, Yusni said that the nation’s agricultural sector accounted for 15 percent of Indonesian GDP in 2010 and for 40 percent of the national work force.

Also at the conference, Dian Kartika Sari, secretary-general of the Indonesia Women’s Coalition for Justice and Democracy (KPI), said empowering rural women was a relevant issue for the nation.

Citing reports, Dian said 68,900 of Indonesia’s 70,000 urban and rural areas were villages. “It means that [more than] 95 percent of the areas in Indonesia are villages,” Dian said.

According to the Central Statistics Agency (BPS), the number of poor people in Indonesia reached 34.96 million people in 2008, 63 percent of whom lived in rural areas.

“The number of poor urban people are declining while the number of poor people residing in rural areas continue to soar. There is a huge development gap between rural and urban areas,” Dian said.

Meanwhile, Ita Nadia, a UN advisor to the Women’s Empowerment and Child Protection Ministry, said listening to and supporting rural women was fundamental to ending poverty and hunger and achieving peace and development that was sustainable.


Wonogiri, 9 Maret 2012

Sumber : http://www.thejakartapost.com/news/2012/03/09/in-east-java-home-gardens-help-women-cut-food-spending.html

Senin, 06 Februari 2012

Jaga Ketersediaan Pangan, SBY Ajak Masyarakat Bercocok Tanam di Rumah

Rachmadin Ismail - detikNews
Selasa, 07/02/2012 13:20 WIB


Jakarta - Seiring bertambahnya jumlah penduduk muncul kekhawatiran soal ketersediaan pangan. Untuk mencegah kelaparan, perlu dilakukan semangat bercocok tanam di lingkungan masyarakat. Langkah itu bisa dimulai di pekarangan rumah sendiri.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memaparkan persoalan itu di depan ratusan peserta seminar Jakarta Food Security Summit yang digagas KADIN di JCC, Senayan, Jakarta, Selasa (7/2/2012).

Menurut SBY, angka pertumbuhan penduduk harus juga dibarengi dengan sistem ketahanan yang mumpuni.

Berdasarkan data FAO, penduduk dunia saat ini berjumlah 7 miliar dan diprediksi akan bertambah hingga 9 miliar di tahun 2045. Dengan angka tersebut, Indonesia setidaknya harus bisa meningkatkan produksi pangannya hingga 60 persen dari jumlah sekarang.

Bagaimana mencukupinya? SBY memberi contoh kondisi masyarakat di Pacitan, Jawa Timur. Di kampung halaman SBY tersebut, masyarakat sudah aktif bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya mulai di rumah sendiri.

"Di sana rumahnya kecil-kecil, tapi sudah menanaman tanaman pangan seperti tomat, cabai dan sayuran," ucap SBY.

"Kalau rumah tangga didorong seperti ini, bisa berkaitan dengan ketahanan pangan atau food security," sambungnya.

Selain itu, SBY juga mencontohkan beberapa kondisi di daerah lain, seperti Yahukimo, Papua, kampung nelayan, hingga nasib para petani bawang di Brebes. SBY menyimpulkan, perlu ada perbaikan teknologi dalam bercocok tanam, khususnya untuk daerah yang memiliki persoalan cuaca.

Tidak hanya itu, insentif bagi para petani juga harus menjadi perhatian penting. Bila itu tidak dilakukan, maka mau tidak mau, permintaan dan ketersediaan barang bakal tidak seimbang.

"Kalau insentif kecil, petani tak mau menanam. Ini mempengaruhi supply," tegasnya.

Karena itu, SBY kembali mengingatkan pentingnya menjaga ketersediaan pangan di Indonesia. Kalangan pengusaha yang tergabung di KADIN juga diminta supaya terus memperhatikan sektor agribisnis.

"Marilah kita tidak lengah dan sungguh serius untuk menemukan cara efektif untuk mengatasi masalah itu. Jadikan krisis sebagai peluang," pesan SBY yang tampil berbatik ini.

(mad/aan)

Sumber : DetikNews, 7 Februari 2012

Jumat, 22 April 2011

Wisata, Ya Berusaha

Oleh : Ratih Prahesti Sudarsono dan Neli Triana
Harian Kompas, Sabtu, 23 April 2011


Selain sekadar mengisi hari libur, banyak keuntungan yang bisa didapat dari bermain ke tempat-tempat agrowisata. Pelatihan bercocok tanam dengan cara mudah dan tidak perlu lahan luas ini pasti bisa langsung dipraktikkan dengan mudah di rumah, sepulang dari jalan-jalan.

Bahkan, keterampilan baru yang didapat dari jalan-jalan ini juga bisa menjadi modal untuk membuka usaha baru di rumah.

Saat berada di Parung Farm, pengunjung tidak hanya diajari cara bertanam, tetapi juga diberi pengetahuan tentang hitung-hitungan ekonomis seandainya mau lebih jauh menjadikan hidroponik sebagai usaha rumahan.

”Hasil produksi pohon cabai, tomat, atau selada bisa dijual di lingkungan tetangga, atau benar-benar membuka perkebunan sayuran hidroponik,” kata Agus Sunaryanto, sarjana ekonomi dan praktisi pertanian, yang mengantar pengunjung keliling Parung Farm.

Parung Farm juga menjual berbagai perangkat peralatan untuk memulai menanam secara hidroponik. Yang sudah pernah menjalani pelatihan tetapi belum juga berhasil mempraktikkannya di rumah boleh kembali ke Parung Farm untuk menimba ilmu lagi. Mereka memberi garansi.

Meminta bantuan teknisi Parung Farm datang ke rumah untuk memeriksa kebun hidroponik milik kita yang sedang bermasalah pun mereka layani dengan senang hati. Konsultasi dengan para ahli tanaman juga disediakan bagi pengunjung di Pasirmukti dan Tanah Tingal.

Ketiga pengelola tempat wisata itu memang memiliki prinsip berbagi ilmu dan mengampanyekan hobi bertanam. Mewabahkan hobi bertanam secara mudah dan menyenangkan ini sekaligus untuk menularkan kesadaran agar melestarikan tanaman-tanaman khas Indonesia atau tanaman yang sudah langka. Tanah Tingal, misalnya, memiliki moto ”konservasi demi kelestarian hidup”.

”Iya, (dengan hidroponik) kita jadi tidak perlu mencangkul tanah. Menyiram pun tidak perlu kalau sekaligus dibuat sistem penyiraman otomatis. Kita tinggal memberi pupuk yang tepat dan mengamati pertumbuhannya. Buat usia seperti saya, tentu enak, tidak harus keluar tenaga banyak dan tetap bersih saat berkebun,” kata Susilo (56), warga Depok yang ditemui saat mengikuti pelatihan di Parung Farm, Kamis (21/4).

Susilo juga merasa, berkebun itu sangat menenteramkan hati dan menyegarkan kehidupan.

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/2011/04/23/03534570/wisata.ya.berusaha

Belajar Berkebun Yuk...

Oleh : Ratih Prahesti Sudarsono dan Neli Triana
Harian Kompas, Sabtu, 23 April 2011


Bingung mencari celah berlibur di akhir pekan yang cukup panjang tanpa harus terjebak macet atau menjadi boros? Coba berkebun saja, yuk. Tempat wisata yang bisa dikategorikan agrowisata ini banyak berlokasi di seputar Jakarta dan Bogor. Yang pasti, berkebun kali ini juga tak harus berkotor-kotor.

Beberapa tempat yang menarik dikunjungi, antara lain, Parung Farm di Jalan Raya Parung, Bogor; Pasirmukti di Citeureup, Bogor; atau di Tanah Tingal di Desa Sawah Baru, Jombang, Ciputat, Tangerang.

Kebun Hidroponik Parung 546 atau Parung Farm mudah dicapai, tidak sampai satu jam bermobil dari Pintu Tol Bogor Outer Ring Road di Kedung Halang, Kota Bogor.

Produk sayur dari Parung Farm mudah ditemukan di supermarket di Jakarta dan sekitarnya. Tempat ini juga dikenal sebagai kebun hidroponik terbesar di Indonesia.

Di Parung Farm, pengunjung bisa cuci mata melihat kebun sayur-mayur yang luas sekaligus belajar teknik berkebun bagi yang punya pekarangan terbatas. ”Kami di sini memang memberi pelatihan urban farming, khususnya hidroponik, dirtless gardening alias berkebun tanpa kotoran. Sebab, media tanamnya air, bukan tanah,” kata Ir Agus Waluyo, salah seorang instruktur di Parung Farm.

Mendengar kata pelatihan, jangan dulu berkecil hati. Di sana, tidak ada ruang kelas tertutup dan pelatihan membosankan. Yang tersedia, pendapa terbuka sehingga dapat melihat aktivitas para pekerja kebun dan menikmati semilir angin. Berada di sana tidak hanya diberi teori, tetapi juga praktik langsung.

Apa cocok untuk wisata anak-anak, remaja, dan orang tua? Tentu saja. Kalau hanya datang berdua bisa langsung ke lokasi. Namun, jika mengajak keluarga besar atau rombongan, lebih baik membuat janji dulu.

Dikarenakan tujuan ke Parung Farm berekreasi, sudah pasti pengelola juga menyediakan fasilitas bersenang-senang. Namun, permainan yang disediakan, memperkenalkan tumbuhan dan cara berkebun yang menyenangkan, unik, serta dijamin beda dari biasanya.

Biayanya Rp 5.000 per orang untuk anak TK dan Rp 10.000 untuk anak SD. Biaya untuk anak SMP dan SMA masing-masing Rp 15.000 dan Rp 20.000 per orang. Biaya untuk pengunjung umum Rp 25.000 per orang. Waktu ”bermainnya” adalah 2-3 jam.

Dengan biaya tersebut, pengunjung bisa mengarungi kawasan kebun seluas 3,5 hektar. Di beberapa tempat, terdapat hamparan sayuran segar, jamur merang, kolam ikan nila, kebun anggrek, kolam ikan, bengkel membuat pot hidroponik, dan percontohan kebun konvensional (di tanah), seperti singkong, cabai, terong. Saat pulang, bibit yang ditanam secara hidroponik di gelas plastik kecil pun diberikan gratis.

Yang ingin pelatihan mendalam dikenai biaya Rp 750.000 per orang, memakan waktu hampir satu hari penuh. Penginapan juga tersedia, Rp 750.000 per malam, berupa rumah kayu. ”Kalau menginap, makannya bisa masak sendiri karena ada dapur, tapi mau pesan juga bisa,” kata Sudibyo Karsono, pengelola Parung Farm.

”Outbound” dan bersepeda

Selain Parung Farm, ada juga Kebun Wisata Pasirmukti dan Tanah Tingal.

Pasirmukti bahkan dilengkapi dengan fasilitas outbound serta penawaran paket-paket wisata bagi anak-anak ataupun anak dengan kebutuhan khusus, juga seminar.

Pasirmukti tepatnya berada di Jalan Raya Tajur Pasirmukti Kilometer 4 Citeureup, Bogor. Dari Tol Jagorawi, ambil Pintu Tol Cibinong-Citeureup, belok kiri, dan setelah itu tinggal mengikuti papan petunjuk. Waktu tempuh sekitar 45 menit dari Jakarta.

Tiket masuk Rp 15.000 per orang. Di sini juga tersedia lahan kamping sampai flying fox melintasi sungai. Di hamparan kebun yang luas, ada juga tempat khusus untuk pengembangan anggrek, tanaman buah, dan berbagai jenis tumbuhan. Ada juga demo gratis perawatan anggrek. Mau menginap di sini pun ada pondok-pondok cantik dan nyaman.

Tanah Tingal pun lebih kurang sama. Bedanya, di tempat wisata yang diprakarsai almarhum Boediardjo, mantan menteri penerangan pada masa Soeharto, ini juga terdapat jalur sepeda.

Tanah Tingal berada di Jalan Merpati Raya, Desa Sawah Baru, Jombang, Ciputat. Di lahan seluas 9 hektar ini segala pernak-pernik kebutuhan hobi tanaman tersedia.

Duh, asyiknya main di lahan penuh pohon, dan yang pasti udaranya juga sangat segar. Yuk, segera berangkat.

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/2011/04/23/03530784/belajar.berkebun.yuk...

Minggu, 10 April 2011

TNI Pun Peduli Ketahanan Pangan

Kompas, Senin,11 April 2011


Apa hubungan militer dengan ketahanan pangan?
Secara langsung memang tidak ada.

Namun, seseorang bisa membela negerinya jika perutnya terisi. Karena itu, Markas Besar Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat merasa perlu untuk terlibat dalam urusan ketahanan pangan itu.

Dan, TNI AD menggandeng Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) untuk mendorong swasembada pangan sebagai bagian dari strategi membangun ketahanan nasional. Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI George Toisutta di Jakarta hari Jumat (8/4) menjelaskan, TNI AD bersinergi dengan HKTI untuk mendampingi petani serta memanfaatkan lahan milik TNI AD yang belum dimanfaatkan.

”Ketahanan pangan adalah bagian dari ketahanan nasional dan menjalankan fungsi pembinaan teritorial. Prajurit akan diberi pelatihan pertanian dan peternakan oleh HKTI. Pada gilirannya, mereka akan membantu masyarakat,” ujar Toisutta.

Dia mengatakan, Indonesia kaya potensi pertanian dan kelautan, tetapi tidak dikelola dengan baik. Bahkan, bidang pertanian tidak dianggap sebagai pekerjaan bergengsi. Jumlah personel TNI AD yang lebih dari 300.000 orang dapat menjadi potensi strategis membangun ketahanan pangan.

Ketua Umum HKTI Oesman Sapta Odang menjelaskan, Indonesia masih mengimpor bahan pangan pertanian, hasil laut, dan produk olahan sebesar Rp 110 triliun per tahun.

”Bahan pangan seperti kedelai, susu, dan buah masih diimpor dalam jumlah besar. Kalau sepertiga dana impor itu digunakan untuk membangun pertanian, perkebunan, dan perikanan, kita dapat menciptakan kemandirian pangan dalam waktu lima tahun,” ujar Oesman Sapta.

Oesman Sapta menerangkan, kerja sama HKTI dan TNI AD sudah dijalankan di sejumlah wilayah. Membangun swasembada pangan adalah tugas penting di masa damai bagi HKTI dan TNI. Apalagi, 70 persen masyarakat Indonesia masih hidup di sektor pertanian. Toisutta pun mendukungnya. (ong)

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/2011/04/11/02515613/tni.pun.peduli.ketahanan.pangan