Oleh : Ratih Prahesti Sudarsono dan Neli Triana
Harian Kompas, Sabtu, 23 April 2011
Selain sekadar mengisi hari libur, banyak keuntungan yang bisa didapat dari bermain ke tempat-tempat agrowisata. Pelatihan bercocok tanam dengan cara mudah dan tidak perlu lahan luas ini pasti bisa langsung dipraktikkan dengan mudah di rumah, sepulang dari jalan-jalan.
Bahkan, keterampilan baru yang didapat dari jalan-jalan ini juga bisa menjadi modal untuk membuka usaha baru di rumah.
Saat berada di Parung Farm, pengunjung tidak hanya diajari cara bertanam, tetapi juga diberi pengetahuan tentang hitung-hitungan ekonomis seandainya mau lebih jauh menjadikan hidroponik sebagai usaha rumahan.
”Hasil produksi pohon cabai, tomat, atau selada bisa dijual di lingkungan tetangga, atau benar-benar membuka perkebunan sayuran hidroponik,” kata Agus Sunaryanto, sarjana ekonomi dan praktisi pertanian, yang mengantar pengunjung keliling Parung Farm.
Parung Farm juga menjual berbagai perangkat peralatan untuk memulai menanam secara hidroponik. Yang sudah pernah menjalani pelatihan tetapi belum juga berhasil mempraktikkannya di rumah boleh kembali ke Parung Farm untuk menimba ilmu lagi. Mereka memberi garansi.
Meminta bantuan teknisi Parung Farm datang ke rumah untuk memeriksa kebun hidroponik milik kita yang sedang bermasalah pun mereka layani dengan senang hati. Konsultasi dengan para ahli tanaman juga disediakan bagi pengunjung di Pasirmukti dan Tanah Tingal.
Ketiga pengelola tempat wisata itu memang memiliki prinsip berbagi ilmu dan mengampanyekan hobi bertanam. Mewabahkan hobi bertanam secara mudah dan menyenangkan ini sekaligus untuk menularkan kesadaran agar melestarikan tanaman-tanaman khas Indonesia atau tanaman yang sudah langka. Tanah Tingal, misalnya, memiliki moto ”konservasi demi kelestarian hidup”.
”Iya, (dengan hidroponik) kita jadi tidak perlu mencangkul tanah. Menyiram pun tidak perlu kalau sekaligus dibuat sistem penyiraman otomatis. Kita tinggal memberi pupuk yang tepat dan mengamati pertumbuhannya. Buat usia seperti saya, tentu enak, tidak harus keluar tenaga banyak dan tetap bersih saat berkebun,” kata Susilo (56), warga Depok yang ditemui saat mengikuti pelatihan di Parung Farm, Kamis (21/4).
Susilo juga merasa, berkebun itu sangat menenteramkan hati dan menyegarkan kehidupan.
Sumber : http://cetak.kompas.com/read/2011/04/23/03534570/wisata.ya.berusaha
Blog Untuk Mempromosikan Gaya Hidup Budi Daya Dan Konsumsi Bahan Pangan Lokal Untuk Memenuhi Kebutuhan Setempat Sebagai Solusi Kreatif Warga Memperkuat Ketahanan Pangan Bangsa
Tampilkan postingan dengan label cinta lingkungan hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta lingkungan hidup. Tampilkan semua postingan
Jumat, 22 April 2011
Kamis, 27 Januari 2011
Locavore Indonesia : Awal Sebuah Revolusi
Oleh : Bambang Haryanto
Email :indolocavore (at) gmail.com
Locavore.
Sudahkah Anda kenal istilah eksotis ini ?
Saya ketabrak istilah itu gara-gara cabai.
Ceritanya, kemarin (19/1/2011) saya memperoleh kabar mutakhir tentang cabi itu dari penjual mi ayam Mas Djan di Wonogiri. mBaknya baru pulang dari pasar, dan mengeluh. Ia baru saja membeli cabai seperempat kilogram dengan harga gila-gilaan.
"Satu kilogram cabai rawit,harganya masih seratus ribu rupiah," katanya.Beberapa hari sebelumnya, koran lokal mewartakan betapa harga cabe satu klethus senilai rupiah sebanyak tiga ratus !
Pagi ini (20/1/2011), mungkin karena benak ini terus dihantui harga cabai itu, ketika membuka-buka situs koran The Jakarta Globe, saya tertabrak istilah locavore itu dalam artikel yang inspiratif. Artikel tentang revolusi upaya memperkuat ketahanan pangan bagi warga Indonesia.
Disitu, penulisnya, Magfirah Dahlan-Taylor yang kandidat PhD bidang perencanaan, tatalaksana dan globalisasi dari Virginia Tech (AS), mewedar gagasan menarikTentang revolusi memperkuat daya tahan pengadaan pangan di negara kita ini melalui upaya pemanfaatan halaman kebun rumah-rumah kita.
Kunci keberhasilan gagasan mulia ini, menurut beliau, harus dimulai dari pola pikir, mindset kita-kita semua.
Ia lalu merujuk ikhtiar Michelle Obama, yang berkebun tanaman sayuran di kompleks Gedung Putih. Aksi mulia Ibu Negara AS itu, menurutnya, sejalan dengan tren gerakan masyarakat di AS yang berlabel locavore, walau ada juga yang menyebut localvore.
Gerakan itu pada intinya berusaha mendekatkan sumber makanan kepada konsumen yang selama ini terbiasa mengambil makanan dari rak-rak di pasar-pasar swalayan ketimbang langsung dari tanaman. Dengan gerakan ini kita diajak mengonsumsi makanan-makanan hasil budi daya lokal.
Selain lebih murah, karena tidak terbebani biaya pajak sampai transportasi [baca kisah menarik dari mBak Bea, warga Indonesia yang kini tinggal di Perancis ketika kangen makanan asal Indonesia], kita juga diajak dan diajar untuk mengetahui ikhtiar apa saja yang membuat tanaman itu tumbuh.
Misalnya, apakah memakai pupuk kimia ataukah pupuk organik ? Merujuk hal itu, jelaslah pula bila gerakan locavore itu juga berimpit dengan misi gerakan pelestarian lingkungan hidup. Dan menurutnya, harus digairahkan sejak dini di bangku-bangku pendidikan kita.
Terima kasih, Ibu Magfirah Dahlan-Taylor.
Bagaimana sikap kita ? Mumpung kita semua masih merasakan shock, termasuk bila Anda membaca berita yang mengabarkan harga cabai mampu mencapai seperempat juta rupiah per kilogramnya, semoga tanda bahaya rawan pangan itu, yang juga berpotensi menjalar ke komoditas pertanian lainnya, mampu menginspirasi kita untuk mulai bergerak. Dimulai dari hal kecil, dari diri kita, dari rumah kita, dan sebaiknya kita lakukan sekarang juga.
Bertani modal kaleng. Bagi saya, imbauan di atas itu ibarat memutar kembali lagu lama dengan aransemen baru. Sedikit bernostalgia, di tahun 1998 ketika badai krisis moneter menggebuk Indonesia yang membuat saya harus pulang kampung ke Wonogiri setelah ngendon di Jakarta lebih dari 18 tahun, saya sempat membuat isu kecil-kecilan dan gerakan berkebun tanaman sayuran di halaman rumah sendiri.
Saya mengajak warga, misalnya dengan memanfaatkan lahan terbatas dan bahkan kaleng-kaleng bekas cat, untuk berkebun tanaman cabai, sawi, kangkung, sampai kacang panjang. Saya bahkan berbisnis benih-benih tanaman sayuran itu, juga pupuk organik, dengan label Optimis melalui jasa pos. Gagasan itu saya sebarkan dan promosikan melalui kolom-kolom surat pembacadi pelbagai surat kabar.
Cerita jadul itu sempat juga saya tulis di blog Esai Epistoholica pada bulan Agustus 2005. Potongannya : "Bisnis pertanian melalui surat pembaca juga pernah saya terjuni. Akibat krismon di awal 1998, saya pun harus hengkang dari Jakarta. Kembali mudik ke Wonogiri.
Dalam perjalanan bis Solo-Wonogiri, saya temukan penjaja asongan yang menawarkan produk unik. Yaitu paket kecil berisi sepuluh jenis biji-bijian, benih tanaman sayuran. Ada bayam, kangkung, lombok, sawi, tomat, gambas sampai mentimun. Saya membeli dan minta alamat penjualnya. Dirinya tinggal di daerah Sukoharjo. Harga satu paket, Rp. 1.000. Kalau belinya banyak, harganya Rp. 600 per paket.
Pertanian adalah subjek yang saya buta sama sekali. Saya anak tentara, bukan anak petani. Selama 18 tahun saya pun tinggal di Jakarta. Kini tiba saatnya, pikir saya, untuk belajar menjadi petani. Saya segera mencari info ke Departemen Pertanian. Bahkan kemudian menemukan tempat yang menjual pupuk organik. Juga membaca-baca majalah pertanian Trubus yang terkenal itu.
Di masa krisis moneter itu cabai harganya mencapai puluhan ribu per kilogram, aku pikir, gerakan swadesi alias mencukupi kebutuhan diri sendiri model Mahatma Gandhi (foto di atas) sebaiknya dicoba untuk dipromosikan."
Revolusi kita bersama. Anda sebagai warga negara Indonesia di mana pun Anda berada, apakah kira-kira kini menjadi ikut tertarik dan kemudian tergerak untuk ikut dalam revolusi locavore yang coba ikut saya sebarkan melalui blog ini ?
Hanya Anda yang bisa memastikannya.
Harapan saya : semoga obrolan tentang cekikan harga cabai, gerakan locavore, dan inspirasi dari Mahatma Gandhi ini mampu membawa manfaat bagi kita semua. Mari kita mulai beraksi. Demi kesejahteraan Anda pribadi, keluarga Anda, lingkungan Anda, dan kita semua.
Anda punya pendapat menarik tentang hal ini ?
Atau ingin berbagi inspirasi dan pengalaman ?
Saya menantikannya.
Terima kasih sebelumnya saya haturkan kepada Anda.
Wonogiri, 28/1/2011
PS : Saat ini saya memelihara 8-10 tanaman cabai.Ditanam sambil lalu saja. Walau tak begitu lebat, saya masih bisa mengonsumsi sayuran favorit ini, untuk diganyang menemani tempe mendoan.
lcv
Email :indolocavore (at) gmail.com
Sudahkah Anda kenal istilah eksotis ini ?
Saya ketabrak istilah itu gara-gara cabai.
Ceritanya, kemarin (19/1/2011) saya memperoleh kabar mutakhir tentang cabi itu dari penjual mi ayam Mas Djan di Wonogiri. mBaknya baru pulang dari pasar, dan mengeluh. Ia baru saja membeli cabai seperempat kilogram dengan harga gila-gilaan.
"Satu kilogram cabai rawit,harganya masih seratus ribu rupiah," katanya.Beberapa hari sebelumnya, koran lokal mewartakan betapa harga cabe satu klethus senilai rupiah sebanyak tiga ratus !
Pagi ini (20/1/2011), mungkin karena benak ini terus dihantui harga cabai itu, ketika membuka-buka situs koran The Jakarta Globe, saya tertabrak istilah locavore itu dalam artikel yang inspiratif. Artikel tentang revolusi upaya memperkuat ketahanan pangan bagi warga Indonesia.
Disitu, penulisnya, Magfirah Dahlan-Taylor yang kandidat PhD bidang perencanaan, tatalaksana dan globalisasi dari Virginia Tech (AS), mewedar gagasan menarikTentang revolusi memperkuat daya tahan pengadaan pangan di negara kita ini melalui upaya pemanfaatan halaman kebun rumah-rumah kita.
Kunci keberhasilan gagasan mulia ini, menurut beliau, harus dimulai dari pola pikir, mindset kita-kita semua.
Ia lalu merujuk ikhtiar Michelle Obama, yang berkebun tanaman sayuran di kompleks Gedung Putih. Aksi mulia Ibu Negara AS itu, menurutnya, sejalan dengan tren gerakan masyarakat di AS yang berlabel locavore, walau ada juga yang menyebut localvore.
Gerakan itu pada intinya berusaha mendekatkan sumber makanan kepada konsumen yang selama ini terbiasa mengambil makanan dari rak-rak di pasar-pasar swalayan ketimbang langsung dari tanaman. Dengan gerakan ini kita diajak mengonsumsi makanan-makanan hasil budi daya lokal.
Selain lebih murah, karena tidak terbebani biaya pajak sampai transportasi [baca kisah menarik dari mBak Bea, warga Indonesia yang kini tinggal di Perancis ketika kangen makanan asal Indonesia], kita juga diajak dan diajar untuk mengetahui ikhtiar apa saja yang membuat tanaman itu tumbuh.
Misalnya, apakah memakai pupuk kimia ataukah pupuk organik ? Merujuk hal itu, jelaslah pula bila gerakan locavore itu juga berimpit dengan misi gerakan pelestarian lingkungan hidup. Dan menurutnya, harus digairahkan sejak dini di bangku-bangku pendidikan kita.
Terima kasih, Ibu Magfirah Dahlan-Taylor.
Bagaimana sikap kita ? Mumpung kita semua masih merasakan shock, termasuk bila Anda membaca berita yang mengabarkan harga cabai mampu mencapai seperempat juta rupiah per kilogramnya, semoga tanda bahaya rawan pangan itu, yang juga berpotensi menjalar ke komoditas pertanian lainnya, mampu menginspirasi kita untuk mulai bergerak. Dimulai dari hal kecil, dari diri kita, dari rumah kita, dan sebaiknya kita lakukan sekarang juga.
Bertani modal kaleng. Bagi saya, imbauan di atas itu ibarat memutar kembali lagu lama dengan aransemen baru. Sedikit bernostalgia, di tahun 1998 ketika badai krisis moneter menggebuk Indonesia yang membuat saya harus pulang kampung ke Wonogiri setelah ngendon di Jakarta lebih dari 18 tahun, saya sempat membuat isu kecil-kecilan dan gerakan berkebun tanaman sayuran di halaman rumah sendiri.
Saya mengajak warga, misalnya dengan memanfaatkan lahan terbatas dan bahkan kaleng-kaleng bekas cat, untuk berkebun tanaman cabai, sawi, kangkung, sampai kacang panjang. Saya bahkan berbisnis benih-benih tanaman sayuran itu, juga pupuk organik, dengan label Optimis melalui jasa pos. Gagasan itu saya sebarkan dan promosikan melalui kolom-kolom surat pembacadi pelbagai surat kabar.
Cerita jadul itu sempat juga saya tulis di blog Esai Epistoholica pada bulan Agustus 2005. Potongannya : "Bisnis pertanian melalui surat pembaca juga pernah saya terjuni. Akibat krismon di awal 1998, saya pun harus hengkang dari Jakarta. Kembali mudik ke Wonogiri.
Dalam perjalanan bis Solo-Wonogiri, saya temukan penjaja asongan yang menawarkan produk unik. Yaitu paket kecil berisi sepuluh jenis biji-bijian, benih tanaman sayuran. Ada bayam, kangkung, lombok, sawi, tomat, gambas sampai mentimun. Saya membeli dan minta alamat penjualnya. Dirinya tinggal di daerah Sukoharjo. Harga satu paket, Rp. 1.000. Kalau belinya banyak, harganya Rp. 600 per paket.
Pertanian adalah subjek yang saya buta sama sekali. Saya anak tentara, bukan anak petani. Selama 18 tahun saya pun tinggal di Jakarta. Kini tiba saatnya, pikir saya, untuk belajar menjadi petani. Saya segera mencari info ke Departemen Pertanian. Bahkan kemudian menemukan tempat yang menjual pupuk organik. Juga membaca-baca majalah pertanian Trubus yang terkenal itu.
Di masa krisis moneter itu cabai harganya mencapai puluhan ribu per kilogram, aku pikir, gerakan swadesi alias mencukupi kebutuhan diri sendiri model Mahatma Gandhi (foto di atas) sebaiknya dicoba untuk dipromosikan."
Revolusi kita bersama. Anda sebagai warga negara Indonesia di mana pun Anda berada, apakah kira-kira kini menjadi ikut tertarik dan kemudian tergerak untuk ikut dalam revolusi locavore yang coba ikut saya sebarkan melalui blog ini ?
Hanya Anda yang bisa memastikannya.
Harapan saya : semoga obrolan tentang cekikan harga cabai, gerakan locavore, dan inspirasi dari Mahatma Gandhi ini mampu membawa manfaat bagi kita semua. Mari kita mulai beraksi. Demi kesejahteraan Anda pribadi, keluarga Anda, lingkungan Anda, dan kita semua.
Anda punya pendapat menarik tentang hal ini ?
Atau ingin berbagi inspirasi dan pengalaman ?
Saya menantikannya.
Terima kasih sebelumnya saya haturkan kepada Anda.
Wonogiri, 28/1/2011
PS : Saat ini saya memelihara 8-10 tanaman cabai.Ditanam sambil lalu saja. Walau tak begitu lebat, saya masih bisa mengonsumsi sayuran favorit ini, untuk diganyang menemani tempe mendoan.
lcv
Label:
bambang haryanto,
carbon print,
cinta lingkungan hidup,
harga cabai,
ketahanan pangan,
lahan sempit,
locavore,
mahatma gandhi,
michelle obama,
pertanian urban,
swadesi,
wonogiri
Langganan:
Postingan (Atom)