Tampilkan postingan dengan label urban farming. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label urban farming. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2012

Growing Organic Rice a Bucket at a Time in East Jakarta

Grace Susetyo |
The Jakarta Globe, March 11, 2012
Source : Growing Organic Rice a Bucket at a Time in East Jakarta


Middle-school teacher Suhri helps students tend to rice plants. His Bucket Rice Club can produce three harvests a year, and each bucket can produce 100 to 300 grams of grain. (Photo courtesy of SMPN 209).

There are bright forecasts for Indonesia’s economy this year, but the prospects for its rice fields appear far dimmer. As the economy booms along, more and more rice fields are converted to housing estates and industrial areas, which could spell trouble for a country that lives on the grain as one of the biggest consumers of rice in the world.

A possible solution might lie in the hands of some teenagers. A group of junior high school students from SMPN 209 in East Jakarta is proving that organic rice can be grown in an urban setting by well-dressed kids.

The materials? Earth, cattle manure, buckets, water and Ciherang rice seedlings. The variety is ideal because it can be planted during both the rainy and the dry seasons. Additionally, the rice can be harvested about 110 days after the seeds are planted, which means there are about three harvests a year.

The cost? About Rp 5,000 (55 cents) per bucket, from which 100 to 300 grams of grains are produced. Recently, 30 kilograms of rice were harvested from SMPN 209’s 300-bucket project. Not bad for tweens aged 11 to 14, many of whom are first-timers at raising crops.

Suhri is the proud Bahasa Indonesia teacher behind the project. He learned about Ciherang rice back in 2007 on a trip home to Pangandaran in West Java, when his brother described a similar project going on in the village.

It was perfect timing because around that time Suhri had taken charge of SMPN 209’s re-vegetation project. Aside from planting rice, Suhri had very little farming experience but he was eager to make the project unique and memorable for his students.

Back in Jakarta, Suhri experimented with planting rice in buckets in his own yard before introducing the project at school. He quickly drew the students’ curiosity and interest and, gradually, their active participation. The project now sits on the concrete rooftop of the school’s musholla (prayer house), the fruits of the work of about 300 students.

“The Bucket Rice Club is so different from our other ones,” said Salsabila. a seventh grader. “Before, I thought that cultivating rice was dirty work that could only be done in a wet field. But here, we plant rice dressed in ties and shoes.”

Buckets are key to making rice cultivation much more efficient. “All the nutrients and water that the crop needs stay in there during its life cycle,” Suhri said. “This solves problems like the high cost of fertilizers, irrigation and agricultural pollution resulting from chemical runoff during rains.”

Although ripe crops occasionally attract birds, Suhri said pests were not a serious problem. To protect the plants from unwanted attention, they can be covered with a protective net or even relocated to a safer spot. This means that no pesticides are needed in the cultivation process.

Additionally, the low maintenance method means that even busy urbanites can squeeze raising crops into their hectic schedules. The project demonstrates the relative ease of producing organic rice from the comfort of a high-rise apartment’s balcony in Jakarta.

In the interest of creating solutions for a greener world, the Bucket Rice Club has also started planting some crops in recycled containers, such as coconut shells and plastic bottles. In addition to rice, the kids are currently experimenting with growing kangkung (water spinach).

Despite the relative ease and simplicity of the project, it does require diligence and perseverance. Suhri said the highlight of his experience had been teaching his students skills and values that will last a lifetime, such as respect for farmers and making responsible choices that help keep the earth green.

Salsabila said her experience cultivating rice had made her appreciate how hard farmers work. “Before, I used to take rice for granted and let leftovers go to waste,” she said. “Now I only take what I can finish.”

Suhri said he hoped SMPN 209’s Bucket Rice Club would become a model for the food security solution in Indonesia.

“In the future, I hope this club can grow to the point that we can provide enough rice for SMPN 209 students,” he said. “Other schools interested in bringing the Bucket Rice Project to their yards are more than welcome to come and learn from us.”

Tautan :

1. Panen Padi bersama, di SMPN 209 Jakarta.

2. Siswi SMPN 209 Jakarta Tanam Padi di Sekolah


Wonogiri,15/3/2012

Jumat, 22 April 2011

Wisata, Ya Berusaha

Oleh : Ratih Prahesti Sudarsono dan Neli Triana
Harian Kompas, Sabtu, 23 April 2011


Selain sekadar mengisi hari libur, banyak keuntungan yang bisa didapat dari bermain ke tempat-tempat agrowisata. Pelatihan bercocok tanam dengan cara mudah dan tidak perlu lahan luas ini pasti bisa langsung dipraktikkan dengan mudah di rumah, sepulang dari jalan-jalan.

Bahkan, keterampilan baru yang didapat dari jalan-jalan ini juga bisa menjadi modal untuk membuka usaha baru di rumah.

Saat berada di Parung Farm, pengunjung tidak hanya diajari cara bertanam, tetapi juga diberi pengetahuan tentang hitung-hitungan ekonomis seandainya mau lebih jauh menjadikan hidroponik sebagai usaha rumahan.

”Hasil produksi pohon cabai, tomat, atau selada bisa dijual di lingkungan tetangga, atau benar-benar membuka perkebunan sayuran hidroponik,” kata Agus Sunaryanto, sarjana ekonomi dan praktisi pertanian, yang mengantar pengunjung keliling Parung Farm.

Parung Farm juga menjual berbagai perangkat peralatan untuk memulai menanam secara hidroponik. Yang sudah pernah menjalani pelatihan tetapi belum juga berhasil mempraktikkannya di rumah boleh kembali ke Parung Farm untuk menimba ilmu lagi. Mereka memberi garansi.

Meminta bantuan teknisi Parung Farm datang ke rumah untuk memeriksa kebun hidroponik milik kita yang sedang bermasalah pun mereka layani dengan senang hati. Konsultasi dengan para ahli tanaman juga disediakan bagi pengunjung di Pasirmukti dan Tanah Tingal.

Ketiga pengelola tempat wisata itu memang memiliki prinsip berbagi ilmu dan mengampanyekan hobi bertanam. Mewabahkan hobi bertanam secara mudah dan menyenangkan ini sekaligus untuk menularkan kesadaran agar melestarikan tanaman-tanaman khas Indonesia atau tanaman yang sudah langka. Tanah Tingal, misalnya, memiliki moto ”konservasi demi kelestarian hidup”.

”Iya, (dengan hidroponik) kita jadi tidak perlu mencangkul tanah. Menyiram pun tidak perlu kalau sekaligus dibuat sistem penyiraman otomatis. Kita tinggal memberi pupuk yang tepat dan mengamati pertumbuhannya. Buat usia seperti saya, tentu enak, tidak harus keluar tenaga banyak dan tetap bersih saat berkebun,” kata Susilo (56), warga Depok yang ditemui saat mengikuti pelatihan di Parung Farm, Kamis (21/4).

Susilo juga merasa, berkebun itu sangat menenteramkan hati dan menyegarkan kehidupan.

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/2011/04/23/03534570/wisata.ya.berusaha

Belajar Berkebun Yuk...

Oleh : Ratih Prahesti Sudarsono dan Neli Triana
Harian Kompas, Sabtu, 23 April 2011


Bingung mencari celah berlibur di akhir pekan yang cukup panjang tanpa harus terjebak macet atau menjadi boros? Coba berkebun saja, yuk. Tempat wisata yang bisa dikategorikan agrowisata ini banyak berlokasi di seputar Jakarta dan Bogor. Yang pasti, berkebun kali ini juga tak harus berkotor-kotor.

Beberapa tempat yang menarik dikunjungi, antara lain, Parung Farm di Jalan Raya Parung, Bogor; Pasirmukti di Citeureup, Bogor; atau di Tanah Tingal di Desa Sawah Baru, Jombang, Ciputat, Tangerang.

Kebun Hidroponik Parung 546 atau Parung Farm mudah dicapai, tidak sampai satu jam bermobil dari Pintu Tol Bogor Outer Ring Road di Kedung Halang, Kota Bogor.

Produk sayur dari Parung Farm mudah ditemukan di supermarket di Jakarta dan sekitarnya. Tempat ini juga dikenal sebagai kebun hidroponik terbesar di Indonesia.

Di Parung Farm, pengunjung bisa cuci mata melihat kebun sayur-mayur yang luas sekaligus belajar teknik berkebun bagi yang punya pekarangan terbatas. ”Kami di sini memang memberi pelatihan urban farming, khususnya hidroponik, dirtless gardening alias berkebun tanpa kotoran. Sebab, media tanamnya air, bukan tanah,” kata Ir Agus Waluyo, salah seorang instruktur di Parung Farm.

Mendengar kata pelatihan, jangan dulu berkecil hati. Di sana, tidak ada ruang kelas tertutup dan pelatihan membosankan. Yang tersedia, pendapa terbuka sehingga dapat melihat aktivitas para pekerja kebun dan menikmati semilir angin. Berada di sana tidak hanya diberi teori, tetapi juga praktik langsung.

Apa cocok untuk wisata anak-anak, remaja, dan orang tua? Tentu saja. Kalau hanya datang berdua bisa langsung ke lokasi. Namun, jika mengajak keluarga besar atau rombongan, lebih baik membuat janji dulu.

Dikarenakan tujuan ke Parung Farm berekreasi, sudah pasti pengelola juga menyediakan fasilitas bersenang-senang. Namun, permainan yang disediakan, memperkenalkan tumbuhan dan cara berkebun yang menyenangkan, unik, serta dijamin beda dari biasanya.

Biayanya Rp 5.000 per orang untuk anak TK dan Rp 10.000 untuk anak SD. Biaya untuk anak SMP dan SMA masing-masing Rp 15.000 dan Rp 20.000 per orang. Biaya untuk pengunjung umum Rp 25.000 per orang. Waktu ”bermainnya” adalah 2-3 jam.

Dengan biaya tersebut, pengunjung bisa mengarungi kawasan kebun seluas 3,5 hektar. Di beberapa tempat, terdapat hamparan sayuran segar, jamur merang, kolam ikan nila, kebun anggrek, kolam ikan, bengkel membuat pot hidroponik, dan percontohan kebun konvensional (di tanah), seperti singkong, cabai, terong. Saat pulang, bibit yang ditanam secara hidroponik di gelas plastik kecil pun diberikan gratis.

Yang ingin pelatihan mendalam dikenai biaya Rp 750.000 per orang, memakan waktu hampir satu hari penuh. Penginapan juga tersedia, Rp 750.000 per malam, berupa rumah kayu. ”Kalau menginap, makannya bisa masak sendiri karena ada dapur, tapi mau pesan juga bisa,” kata Sudibyo Karsono, pengelola Parung Farm.

”Outbound” dan bersepeda

Selain Parung Farm, ada juga Kebun Wisata Pasirmukti dan Tanah Tingal.

Pasirmukti bahkan dilengkapi dengan fasilitas outbound serta penawaran paket-paket wisata bagi anak-anak ataupun anak dengan kebutuhan khusus, juga seminar.

Pasirmukti tepatnya berada di Jalan Raya Tajur Pasirmukti Kilometer 4 Citeureup, Bogor. Dari Tol Jagorawi, ambil Pintu Tol Cibinong-Citeureup, belok kiri, dan setelah itu tinggal mengikuti papan petunjuk. Waktu tempuh sekitar 45 menit dari Jakarta.

Tiket masuk Rp 15.000 per orang. Di sini juga tersedia lahan kamping sampai flying fox melintasi sungai. Di hamparan kebun yang luas, ada juga tempat khusus untuk pengembangan anggrek, tanaman buah, dan berbagai jenis tumbuhan. Ada juga demo gratis perawatan anggrek. Mau menginap di sini pun ada pondok-pondok cantik dan nyaman.

Tanah Tingal pun lebih kurang sama. Bedanya, di tempat wisata yang diprakarsai almarhum Boediardjo, mantan menteri penerangan pada masa Soeharto, ini juga terdapat jalur sepeda.

Tanah Tingal berada di Jalan Merpati Raya, Desa Sawah Baru, Jombang, Ciputat. Di lahan seluas 9 hektar ini segala pernak-pernik kebutuhan hobi tanaman tersedia.

Duh, asyiknya main di lahan penuh pohon, dan yang pasti udaranya juga sangat segar. Yuk, segera berangkat.

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/2011/04/23/03530784/belajar.berkebun.yuk...