Tampilkan postingan dengan label ketahanan pangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ketahanan pangan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2012

In East Java, home gardens help women cut food spending

Elly Burhaini Faizal
The Jakarta Post, Jakarta |
Fri, 03/09/2012 8:08 AM



A government initiative has helped women in Pacitan, East Java, reduce their individual household monthly food spending by Rp 195,000 (US$21.45) to Rp 700,000.

The program, Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), was designed to help rural women become self-sufficient in food production.

“Empowering rural women will be critical, as they are crucial partners in fighting hunger and poverty due to their key role in the food supply chain,” Yusni Emilia Harahap, a staff expert on environmental issues at the Agriculture Ministry, said.

The program promotes home gardens as a way for women to meet daily needs while reducing food expenditures.

“The model has been replicated in several areas and we hope that it can be expanded further with support from the Agriculture Ministry and other stakeholders who are concerned about food security,” Yusni said, adding that the project had been implemented at the local level in Central Java, East Java and South Sulawesi.

If successful and home gardens become widespread, the program would increase the nation’s food production and security, she added.

Yusni said that the agriculture sector was facing a heavy burden due to increased demand for food from a growing population.

“Amid limited food resources, it is crucial for us to maintain food sufficiency by making use of local resources,” she said during a discussion entitled “Empower Rural Women: End Hunger and Poverty”.

The program was held by the United Nations Information Center (UNIC) and the UN Population Fund (UNFPA) to mark International Women’s Day on March 8.

According to data from UNFPA, rural women comprise 25 percent of the world’s population, while the Food Agriculture Organization (FAO) said that women comprised half the global population of farmers.

However, women lacked resources, including financing, and less than 20 percent of all land owners were women, according to the reports.

Citing Agriculture Ministry data, Yusni said that the nation’s agricultural sector accounted for 15 percent of Indonesian GDP in 2010 and for 40 percent of the national work force.

Also at the conference, Dian Kartika Sari, secretary-general of the Indonesia Women’s Coalition for Justice and Democracy (KPI), said empowering rural women was a relevant issue for the nation.

Citing reports, Dian said 68,900 of Indonesia’s 70,000 urban and rural areas were villages. “It means that [more than] 95 percent of the areas in Indonesia are villages,” Dian said.

According to the Central Statistics Agency (BPS), the number of poor people in Indonesia reached 34.96 million people in 2008, 63 percent of whom lived in rural areas.

“The number of poor urban people are declining while the number of poor people residing in rural areas continue to soar. There is a huge development gap between rural and urban areas,” Dian said.

Meanwhile, Ita Nadia, a UN advisor to the Women’s Empowerment and Child Protection Ministry, said listening to and supporting rural women was fundamental to ending poverty and hunger and achieving peace and development that was sustainable.


Wonogiri, 9 Maret 2012

Sumber : http://www.thejakartapost.com/news/2012/03/09/in-east-java-home-gardens-help-women-cut-food-spending.html

Senin, 06 Februari 2012

Jaga Ketersediaan Pangan, SBY Ajak Masyarakat Bercocok Tanam di Rumah

Rachmadin Ismail - detikNews
Selasa, 07/02/2012 13:20 WIB


Jakarta - Seiring bertambahnya jumlah penduduk muncul kekhawatiran soal ketersediaan pangan. Untuk mencegah kelaparan, perlu dilakukan semangat bercocok tanam di lingkungan masyarakat. Langkah itu bisa dimulai di pekarangan rumah sendiri.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memaparkan persoalan itu di depan ratusan peserta seminar Jakarta Food Security Summit yang digagas KADIN di JCC, Senayan, Jakarta, Selasa (7/2/2012).

Menurut SBY, angka pertumbuhan penduduk harus juga dibarengi dengan sistem ketahanan yang mumpuni.

Berdasarkan data FAO, penduduk dunia saat ini berjumlah 7 miliar dan diprediksi akan bertambah hingga 9 miliar di tahun 2045. Dengan angka tersebut, Indonesia setidaknya harus bisa meningkatkan produksi pangannya hingga 60 persen dari jumlah sekarang.

Bagaimana mencukupinya? SBY memberi contoh kondisi masyarakat di Pacitan, Jawa Timur. Di kampung halaman SBY tersebut, masyarakat sudah aktif bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya mulai di rumah sendiri.

"Di sana rumahnya kecil-kecil, tapi sudah menanaman tanaman pangan seperti tomat, cabai dan sayuran," ucap SBY.

"Kalau rumah tangga didorong seperti ini, bisa berkaitan dengan ketahanan pangan atau food security," sambungnya.

Selain itu, SBY juga mencontohkan beberapa kondisi di daerah lain, seperti Yahukimo, Papua, kampung nelayan, hingga nasib para petani bawang di Brebes. SBY menyimpulkan, perlu ada perbaikan teknologi dalam bercocok tanam, khususnya untuk daerah yang memiliki persoalan cuaca.

Tidak hanya itu, insentif bagi para petani juga harus menjadi perhatian penting. Bila itu tidak dilakukan, maka mau tidak mau, permintaan dan ketersediaan barang bakal tidak seimbang.

"Kalau insentif kecil, petani tak mau menanam. Ini mempengaruhi supply," tegasnya.

Karena itu, SBY kembali mengingatkan pentingnya menjaga ketersediaan pangan di Indonesia. Kalangan pengusaha yang tergabung di KADIN juga diminta supaya terus memperhatikan sektor agribisnis.

"Marilah kita tidak lengah dan sungguh serius untuk menemukan cara efektif untuk mengatasi masalah itu. Jadikan krisis sebagai peluang," pesan SBY yang tampil berbatik ini.

(mad/aan)

Sumber : DetikNews, 7 Februari 2012

Minggu, 10 April 2011

TNI Pun Peduli Ketahanan Pangan

Kompas, Senin,11 April 2011


Apa hubungan militer dengan ketahanan pangan?
Secara langsung memang tidak ada.

Namun, seseorang bisa membela negerinya jika perutnya terisi. Karena itu, Markas Besar Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat merasa perlu untuk terlibat dalam urusan ketahanan pangan itu.

Dan, TNI AD menggandeng Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) untuk mendorong swasembada pangan sebagai bagian dari strategi membangun ketahanan nasional. Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI George Toisutta di Jakarta hari Jumat (8/4) menjelaskan, TNI AD bersinergi dengan HKTI untuk mendampingi petani serta memanfaatkan lahan milik TNI AD yang belum dimanfaatkan.

”Ketahanan pangan adalah bagian dari ketahanan nasional dan menjalankan fungsi pembinaan teritorial. Prajurit akan diberi pelatihan pertanian dan peternakan oleh HKTI. Pada gilirannya, mereka akan membantu masyarakat,” ujar Toisutta.

Dia mengatakan, Indonesia kaya potensi pertanian dan kelautan, tetapi tidak dikelola dengan baik. Bahkan, bidang pertanian tidak dianggap sebagai pekerjaan bergengsi. Jumlah personel TNI AD yang lebih dari 300.000 orang dapat menjadi potensi strategis membangun ketahanan pangan.

Ketua Umum HKTI Oesman Sapta Odang menjelaskan, Indonesia masih mengimpor bahan pangan pertanian, hasil laut, dan produk olahan sebesar Rp 110 triliun per tahun.

”Bahan pangan seperti kedelai, susu, dan buah masih diimpor dalam jumlah besar. Kalau sepertiga dana impor itu digunakan untuk membangun pertanian, perkebunan, dan perikanan, kita dapat menciptakan kemandirian pangan dalam waktu lima tahun,” ujar Oesman Sapta.

Oesman Sapta menerangkan, kerja sama HKTI dan TNI AD sudah dijalankan di sejumlah wilayah. Membangun swasembada pangan adalah tugas penting di masa damai bagi HKTI dan TNI. Apalagi, 70 persen masyarakat Indonesia masih hidup di sektor pertanian. Toisutta pun mendukungnya. (ong)

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/2011/04/11/02515613/tni.pun.peduli.ketahanan.pangan

Kamis, 27 Januari 2011

Locavore Indonesia : Awal Sebuah Revolusi

Oleh : Bambang Haryanto
Email :indolocavore (at) gmail.com


Locavore.
Sudahkah Anda kenal istilah eksotis ini ?
Saya ketabrak istilah itu gara-gara cabai.

Ceritanya, kemarin (19/1/2011) saya memperoleh kabar mutakhir tentang cabi itu dari penjual mi ayam Mas Djan di Wonogiri. mBaknya baru pulang dari pasar, dan mengeluh. Ia baru saja membeli cabai seperempat kilogram dengan harga gila-gilaan.

"Satu kilogram cabai rawit,harganya masih seratus ribu rupiah," katanya.Beberapa hari sebelumnya, koran lokal mewartakan betapa harga cabe satu klethus senilai rupiah sebanyak tiga ratus !

Pagi ini (20/1/2011), mungkin karena benak ini terus dihantui harga cabai itu, ketika membuka-buka situs koran The Jakarta Globe, saya tertabrak istilah locavore itu dalam artikel yang inspiratif. Artikel tentang revolusi upaya memperkuat ketahanan pangan bagi warga Indonesia.

Disitu, penulisnya, Magfirah Dahlan-Taylor yang kandidat PhD bidang perencanaan, tatalaksana dan globalisasi dari Virginia Tech (AS), mewedar gagasan menarikTentang revolusi memperkuat daya tahan pengadaan pangan di negara kita ini melalui upaya pemanfaatan halaman kebun rumah-rumah kita.

Kunci keberhasilan gagasan mulia ini, menurut beliau, harus dimulai dari pola pikir, mindset kita-kita semua.

Ia lalu merujuk ikhtiar Michelle Obama, yang berkebun tanaman sayuran di kompleks Gedung Putih. Aksi mulia Ibu Negara AS itu, menurutnya, sejalan dengan tren gerakan masyarakat di AS yang berlabel locavore, walau ada juga yang menyebut localvore.

Gerakan itu pada intinya berusaha mendekatkan sumber makanan kepada konsumen yang selama ini terbiasa mengambil makanan dari rak-rak di pasar-pasar swalayan ketimbang langsung dari tanaman. Dengan gerakan ini kita diajak mengonsumsi makanan-makanan hasil budi daya lokal.

Selain lebih murah, karena tidak terbebani biaya pajak sampai transportasi [baca kisah menarik dari mBak Bea, warga Indonesia yang kini tinggal di Perancis ketika kangen makanan asal Indonesia], kita juga diajak dan diajar untuk mengetahui ikhtiar apa saja yang membuat tanaman itu tumbuh.

Misalnya, apakah memakai pupuk kimia ataukah pupuk organik ? Merujuk hal itu, jelaslah pula bila gerakan locavore itu juga berimpit dengan misi gerakan pelestarian lingkungan hidup. Dan menurutnya, harus digairahkan sejak dini di bangku-bangku pendidikan kita.

Terima kasih, Ibu Magfirah Dahlan-Taylor.

Bagaimana sikap kita ? Mumpung kita semua masih merasakan shock, termasuk bila Anda membaca berita yang mengabarkan harga cabai mampu mencapai seperempat juta rupiah per kilogramnya, semoga tanda bahaya rawan pangan itu, yang juga berpotensi menjalar ke komoditas pertanian lainnya, mampu menginspirasi kita untuk mulai bergerak. Dimulai dari hal kecil, dari diri kita, dari rumah kita, dan sebaiknya kita lakukan sekarang juga.

Bertani modal kaleng. Bagi saya, imbauan di atas itu ibarat memutar kembali lagu lama dengan aransemen baru. Sedikit bernostalgia, di tahun 1998 ketika badai krisis moneter menggebuk Indonesia yang membuat saya harus pulang kampung ke Wonogiri setelah ngendon di Jakarta lebih dari 18 tahun, saya sempat membuat isu kecil-kecilan dan gerakan berkebun tanaman sayuran di halaman rumah sendiri.

Saya mengajak warga, misalnya dengan memanfaatkan lahan terbatas dan bahkan kaleng-kaleng bekas cat, untuk berkebun tanaman cabai, sawi, kangkung, sampai kacang panjang. Saya bahkan berbisnis benih-benih tanaman sayuran itu, juga pupuk organik, dengan label Optimis melalui jasa pos. Gagasan itu saya sebarkan dan promosikan melalui kolom-kolom surat pembacadi pelbagai surat kabar.

Cerita jadul itu sempat juga saya tulis di blog Esai Epistoholica pada bulan Agustus 2005. Potongannya : "Bisnis pertanian melalui surat pembaca juga pernah saya terjuni. Akibat krismon di awal 1998, saya pun harus hengkang dari Jakarta. Kembali mudik ke Wonogiri.

Dalam perjalanan bis Solo-Wonogiri, saya temukan penjaja asongan yang menawarkan produk unik. Yaitu paket kecil berisi sepuluh jenis biji-bijian, benih tanaman sayuran. Ada bayam, kangkung, lombok, sawi, tomat, gambas sampai mentimun. Saya membeli dan minta alamat penjualnya. Dirinya tinggal di daerah Sukoharjo. Harga satu paket, Rp. 1.000. Kalau belinya banyak, harganya Rp. 600 per paket.

Pertanian adalah subjek yang saya buta sama sekali. Saya anak tentara, bukan anak petani. Selama 18 tahun saya pun tinggal di Jakarta. Kini tiba saatnya, pikir saya, untuk belajar menjadi petani. Saya segera mencari info ke Departemen Pertanian. Bahkan kemudian menemukan tempat yang menjual pupuk organik. Juga membaca-baca majalah pertanian Trubus yang terkenal itu.

Di masa krisis moneter itu cabai harganya mencapai puluhan ribu per kilogram, aku pikir, gerakan swadesi alias mencukupi kebutuhan diri sendiri model Mahatma Gandhi (foto di atas) sebaiknya dicoba untuk dipromosikan."

Revolusi kita bersama. Anda sebagai warga negara Indonesia di mana pun Anda berada, apakah kira-kira kini menjadi ikut tertarik dan kemudian tergerak untuk ikut dalam revolusi locavore yang coba ikut saya sebarkan melalui blog ini ?

Hanya Anda yang bisa memastikannya.

Harapan saya : semoga obrolan tentang cekikan harga cabai, gerakan locavore, dan inspirasi dari Mahatma Gandhi ini mampu membawa manfaat bagi kita semua. Mari kita mulai beraksi. Demi kesejahteraan Anda pribadi, keluarga Anda, lingkungan Anda, dan kita semua.

Anda punya pendapat menarik tentang hal ini ?
Atau ingin berbagi inspirasi dan pengalaman ?
Saya menantikannya.
Terima kasih sebelumnya saya haturkan kepada Anda.


Wonogiri, 28/1/2011


PS : Saat ini saya memelihara 8-10 tanaman cabai.Ditanam sambil lalu saja. Walau tak begitu lebat, saya masih bisa mengonsumsi sayuran favorit ini, untuk diganyang menemani tempe mendoan.


lcv