Rachmadin Ismail - detikNews
Selasa, 07/02/2012 13:20 WIB
Jakarta - Seiring bertambahnya jumlah penduduk muncul kekhawatiran soal ketersediaan pangan. Untuk mencegah kelaparan, perlu dilakukan semangat bercocok tanam di lingkungan masyarakat. Langkah itu bisa dimulai di pekarangan rumah sendiri.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memaparkan persoalan itu di depan ratusan peserta seminar Jakarta Food Security Summit yang digagas KADIN di JCC, Senayan, Jakarta, Selasa (7/2/2012).
Menurut SBY, angka pertumbuhan penduduk harus juga dibarengi dengan sistem ketahanan yang mumpuni.
Berdasarkan data FAO, penduduk dunia saat ini berjumlah 7 miliar dan diprediksi akan bertambah hingga 9 miliar di tahun 2045. Dengan angka tersebut, Indonesia setidaknya harus bisa meningkatkan produksi pangannya hingga 60 persen dari jumlah sekarang.
Bagaimana mencukupinya? SBY memberi contoh kondisi masyarakat di Pacitan, Jawa Timur. Di kampung halaman SBY tersebut, masyarakat sudah aktif bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya mulai di rumah sendiri.
"Di sana rumahnya kecil-kecil, tapi sudah menanaman tanaman pangan seperti tomat, cabai dan sayuran," ucap SBY.
"Kalau rumah tangga didorong seperti ini, bisa berkaitan dengan ketahanan pangan atau food security," sambungnya.
Selain itu, SBY juga mencontohkan beberapa kondisi di daerah lain, seperti Yahukimo, Papua, kampung nelayan, hingga nasib para petani bawang di Brebes. SBY menyimpulkan, perlu ada perbaikan teknologi dalam bercocok tanam, khususnya untuk daerah yang memiliki persoalan cuaca.
Tidak hanya itu, insentif bagi para petani juga harus menjadi perhatian penting. Bila itu tidak dilakukan, maka mau tidak mau, permintaan dan ketersediaan barang bakal tidak seimbang.
"Kalau insentif kecil, petani tak mau menanam. Ini mempengaruhi supply," tegasnya.
Karena itu, SBY kembali mengingatkan pentingnya menjaga ketersediaan pangan di Indonesia. Kalangan pengusaha yang tergabung di KADIN juga diminta supaya terus memperhatikan sektor agribisnis.
"Marilah kita tidak lengah dan sungguh serius untuk menemukan cara efektif untuk mengatasi masalah itu. Jadikan krisis sebagai peluang," pesan SBY yang tampil berbatik ini.
(mad/aan)
Sumber : DetikNews, 7 Februari 2012
Blog Untuk Mempromosikan Gaya Hidup Budi Daya Dan Konsumsi Bahan Pangan Lokal Untuk Memenuhi Kebutuhan Setempat Sebagai Solusi Kreatif Warga Memperkuat Ketahanan Pangan Bangsa
Tampilkan postingan dengan label bambang haryanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bambang haryanto. Tampilkan semua postingan
Senin, 06 Februari 2012
Minggu, 03 April 2011
Sayur dalam Pot di Pesisir
Ahmad Arif
Kompas, Senin,4/4/2011
Perubahan iklim, yang hadir dalam bentuk intrusi air laut ke daratan, dirasakan warga Cangkring, Kecamatan Cantigi, Indramayu, Jawa Barat. Jangankan tanaman padi, rumput pun sulit tumbuh di desa berbatas laut itu. Sebelum 1998, desa itu masih punya 400 hektar sawah.
Sebelum 1990-an, kami adalah petani,” kata Zaenudin, warga Cangkring. Perlahan, sawah-sawah mereka tergerus air laut.
Sawah berubah payau. Debit air tawar irigasi jauh lebih kecil dibanding aliran air laut ke darat. Panen padi terus merosot.
Karena itu, sejak 1998, warga desa tergoda mengalihkan lahan jadi tambak udang yang menjanjikan keuntungan tinggi. ”Semua sawah dijadikan tambak karena padi tak mungkin lagi ditanam,” kata Solikhin, Ketua Kelompok Tani Sekar Kedaton dari Cangkring.
Namun, usaha tambak udang hanya bertahan kurang dari lima tahun. Hasil tambak merosot karena berbagai penyakit. Areal tambak bekas sawah sebagian dibiarkan telantar. Kembali ke padi tak mungkin lagi.
Hamparan padi menguning tinggal cerita. Desa itu gersang dan meranggas. Satu-dua pohon kelapa dan pisang yang tumbuh daunnya kuning. Enggan berbuah. Bahkan, rumput hanya tumbuh di musim hujan. Hijau tanaman hanya bunga-bunga yang ditanam warga menggunakan pot, tanahnya dari desa tetangga.
”Bunga dalam pot itu menjadi ide kami mengajak warga menanam sayur dalam polybag plastik,” kata Masroni, Ketua Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) Indramayu.
Sejak setahun lalu, IPPHTI Indramayu berupaya menghijaukan kembali Desa Cangkring. Tak mudah. Tanah di Cangkring terlalu asin. Air pasang yang sering merendam pekarangan warga membuat upaya menanam jadi mustahil.
”Kami mendatangkan tanah dari desa lain. Sayuran ditanam di polybag yang disusun di atas gundukan tanah agar bebas dari air pasang,” kata Masroni.
Upaya itu berhasil. Kini, aneka sayur, seperti cabai, terung, kacang panjang, hingga pare, tumbuh di pekarangan warga. ”Sudah bertahun-tahun kami tak makan sayur. Kini, kami bisa makan hasil tanaman sendiri,” kata Solikhin.
Intrusi air laut
Cerita tentang Cangkring layak jadi peringatan bagi pertanian kita, khususnya pertanian di pesisir Pulau Jawa yang rentan terdampak kenaikan muka air laut. Penelitian pakar bencana dari Universitas Gadjah Mada, Subiyakto, mengingatkan, perubahan iklim berupa naiknya muka air laut sudah hadir di Indonesia. Hal ini rentan menjadi bencana dalam skala masif.
”Perubahan iklim di Indonesia sudah sangat serius dampaknya. Diperlukan percepatan strategi mitigasi dan adaptasi berbasis kapasitas masyarakat, ilmu pengetahuan, dan teknologi untuk mengurangi dampak,” kata Subiyakto, dalam pengukuhan sebagai guru besar, belum lama ini. Perubahan iklim paling gampang terlihat dari intrusi air asin ke daratan.
Subandono dalam bukunya, Menyiasati Perubahan Iklim di Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, 2009, memprediksi, kenaikan muka air laut di pantai utara Jawa mencapai 6-10 mm per tahun. Artinya, kota-kota di pesisir Pulau Jawa, seperti Pekalongan, 100 tahun mendatang akan tergenang air laut hingga 2,1 km dari garis pantai saat ini. Sementara itu, Kota Semarang akan tergenang sejauh 3,2 km dari garis pantai.
Eksperimen petani
Kustiwa Adinata, Koordinator Program IPPHTI Nasional, mengatakan, eksperimen di Cangkring hanya satu contoh upaya petani di jaringannya dalam menyiasati intrusi air laut. Mereka mencoba menanam dan menyilangkan varietas padi tahan asin di Desa Cantigi Kulon, masih di Indramayu.
Selain Indramayu, IPPHTI juga menggandeng sejumlah petani di Brebes, Cilacap, Tasikmalaya, Ciamis, Pangandaran, hingga Palembang (Sumatera Selatan) dan Serdang Bedagai (Sumatera Utara) untuk bertani di lahan asin.
”Dua tahun terakhir, kami mendampingi petani di Rawa Apu, Cilacap, kembali menggarap sawah yang ditinggalkan karena air asin. Menanam padi atau sayur di lahan asin dimungkinkan. Namun, kami harus terus bereksperimen. Tiap daerah, teknik dan benih yang cocok berbeda-beda,” kata Kustiwa.
Sumber : http://cetak.kompas.com/read/2011/04/04/03434593/sayur.dalam.pot.di.pesisir.
Kompas, Senin,4/4/2011
Perubahan iklim, yang hadir dalam bentuk intrusi air laut ke daratan, dirasakan warga Cangkring, Kecamatan Cantigi, Indramayu, Jawa Barat. Jangankan tanaman padi, rumput pun sulit tumbuh di desa berbatas laut itu. Sebelum 1998, desa itu masih punya 400 hektar sawah.
Sebelum 1990-an, kami adalah petani,” kata Zaenudin, warga Cangkring. Perlahan, sawah-sawah mereka tergerus air laut.
Sawah berubah payau. Debit air tawar irigasi jauh lebih kecil dibanding aliran air laut ke darat. Panen padi terus merosot.
Karena itu, sejak 1998, warga desa tergoda mengalihkan lahan jadi tambak udang yang menjanjikan keuntungan tinggi. ”Semua sawah dijadikan tambak karena padi tak mungkin lagi ditanam,” kata Solikhin, Ketua Kelompok Tani Sekar Kedaton dari Cangkring.
Namun, usaha tambak udang hanya bertahan kurang dari lima tahun. Hasil tambak merosot karena berbagai penyakit. Areal tambak bekas sawah sebagian dibiarkan telantar. Kembali ke padi tak mungkin lagi.
Hamparan padi menguning tinggal cerita. Desa itu gersang dan meranggas. Satu-dua pohon kelapa dan pisang yang tumbuh daunnya kuning. Enggan berbuah. Bahkan, rumput hanya tumbuh di musim hujan. Hijau tanaman hanya bunga-bunga yang ditanam warga menggunakan pot, tanahnya dari desa tetangga.
”Bunga dalam pot itu menjadi ide kami mengajak warga menanam sayur dalam polybag plastik,” kata Masroni, Ketua Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) Indramayu.
Sejak setahun lalu, IPPHTI Indramayu berupaya menghijaukan kembali Desa Cangkring. Tak mudah. Tanah di Cangkring terlalu asin. Air pasang yang sering merendam pekarangan warga membuat upaya menanam jadi mustahil.
”Kami mendatangkan tanah dari desa lain. Sayuran ditanam di polybag yang disusun di atas gundukan tanah agar bebas dari air pasang,” kata Masroni.
Upaya itu berhasil. Kini, aneka sayur, seperti cabai, terung, kacang panjang, hingga pare, tumbuh di pekarangan warga. ”Sudah bertahun-tahun kami tak makan sayur. Kini, kami bisa makan hasil tanaman sendiri,” kata Solikhin.
Intrusi air laut
Cerita tentang Cangkring layak jadi peringatan bagi pertanian kita, khususnya pertanian di pesisir Pulau Jawa yang rentan terdampak kenaikan muka air laut. Penelitian pakar bencana dari Universitas Gadjah Mada, Subiyakto, mengingatkan, perubahan iklim berupa naiknya muka air laut sudah hadir di Indonesia. Hal ini rentan menjadi bencana dalam skala masif.
”Perubahan iklim di Indonesia sudah sangat serius dampaknya. Diperlukan percepatan strategi mitigasi dan adaptasi berbasis kapasitas masyarakat, ilmu pengetahuan, dan teknologi untuk mengurangi dampak,” kata Subiyakto, dalam pengukuhan sebagai guru besar, belum lama ini. Perubahan iklim paling gampang terlihat dari intrusi air asin ke daratan.
Subandono dalam bukunya, Menyiasati Perubahan Iklim di Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, 2009, memprediksi, kenaikan muka air laut di pantai utara Jawa mencapai 6-10 mm per tahun. Artinya, kota-kota di pesisir Pulau Jawa, seperti Pekalongan, 100 tahun mendatang akan tergenang air laut hingga 2,1 km dari garis pantai saat ini. Sementara itu, Kota Semarang akan tergenang sejauh 3,2 km dari garis pantai.
Eksperimen petani
Kustiwa Adinata, Koordinator Program IPPHTI Nasional, mengatakan, eksperimen di Cangkring hanya satu contoh upaya petani di jaringannya dalam menyiasati intrusi air laut. Mereka mencoba menanam dan menyilangkan varietas padi tahan asin di Desa Cantigi Kulon, masih di Indramayu.
Selain Indramayu, IPPHTI juga menggandeng sejumlah petani di Brebes, Cilacap, Tasikmalaya, Ciamis, Pangandaran, hingga Palembang (Sumatera Selatan) dan Serdang Bedagai (Sumatera Utara) untuk bertani di lahan asin.
”Dua tahun terakhir, kami mendampingi petani di Rawa Apu, Cilacap, kembali menggarap sawah yang ditinggalkan karena air asin. Menanam padi atau sayur di lahan asin dimungkinkan. Namun, kami harus terus bereksperimen. Tiap daerah, teknik dan benih yang cocok berbeda-beda,” kata Kustiwa.
Sumber : http://cetak.kompas.com/read/2011/04/04/03434593/sayur.dalam.pot.di.pesisir.
Sabtu, 05 Februari 2011
Buku Panduan Menghindari Cekikan Harga Cabai
Oleh : Bambang Haryanto
Email : indolocavore (at) gmail.com
Mari Elka Pangestu pusing dibelit harga cabai.
Tetapi ia punya solusi yang menginspirasi.
Dengan bertanam cabai di rumahnya sendiri.
Menteri Perdagangan itu sesusai bertemu Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Kamis, 6/1/2011, berkata kepada wartawan : "Pengumuman, saya sudah menanam 200 pohon cabai di rumah, memakai pot-pot. Saya ajak konsumen untuk ikut menanam," ujarnya.
Menteri Pertanian Suswono beberapa hari kemudian (6/1/2011) menimpali, bahwa langkah pemerintah untuk mengatasi krisis cabai adalah mengajak masyarakat menanam pohon cabai di halaman rumah masing-masing. "Ini kebiasaan yang harus dicanangkan kembali karena menanam cabai itu mudah. Tak punya halaman saja, bisa pakai pot dan lainnya," paparnya lagi.
Anjuran para menteri itu terkait kenyataan pahit, betapa lonjakan harga cabai menjadi penyumbang angka inflasi yang signifikan tinggi di pada bulan Januari 2011 yang baru berlalu.
Bersiap diri ke depan. Anjuran Presiden SBY agar warga sudi bertanam cabai di rumah, yang disuarakan para pembantunya itu, baik pula untuk kita camkan. Walau sebenarnya, anjuran itu bukan hal yang baru.
Apabila Anda terjun meriset di Internet, Anda akan menemui banyak petunjuk mengenai budi daya tanaman cabai dalam pot. Misalnya blog Info Agrobisnis, blog Bertani Mandiri, laporan ilmiah mahasiswa IPB Bogor , Pendi Nainggolan dan kawan-kawan yang berjudul Budi Daya Cabai Dalam Pot Sebagai Penyejuk Pekarangan Rumah Dan Bermanfaat Bagi Kebutuhan Dapur sampai blog berisi ajakan "Berkebun Cabai Yuk" untuk para remaja dari Daniezha yang berdomisili di Semarang.
Panduan yang lebih menarik dan lengkap dapat direguk dari buku karya dosen Institut Pertanian Bogor (IPB), Ir. Purwono, MS yang berjudul Bertanam Cabai Rawit Dalam Pot (AgroMedia Pustaka, 2003, foto di atas). Ketika milang-miling di rak buku Perpustakaan Umum Wonogiri, saya seperti kejatuhan durian untuk segera tergerak membaca-baca buku ini.
Dari buku ini saya baru tahu bahwa tanaman cabai memiliki banyak manfaat dan khasiat. Antara lain sebagai "obat" pelangsing tubuh sesuai hasil penelitian di Universitas Tasmania, Australia, kemudian daunnya dapat menyembuhkan sakit eksim, serbuk cabai berguna obat sakit reumatik, dan kembali daunnya dapat kita manfaatkan sebagai obat sakit perut (h.11).
Sebelumnya kita dibukakan wawasan mengenai sejarah tanaman cabai, klasifikasi, sampai jenis-jenis cabai rawit. Kemudian kita dibimbing untuk mengetahui pelbagai keuntungan bertanam cabai dalam wadah, yang antara lain : kita dapat mengoptimalkan pekarangan sempit dan dapat memanfaatkan barang-barang bekas sebagai wadah penanaman.
Ada nilai plus lain yang disebutkan oleh penulis, bahwa "tanaman yang ditanam tidak hanya dapat dipetik buahnya, tetapi juga dapat dinikmati nilai keindahannya" (h. 12-13). Informasi terakhir ini sejalan dengan filosofi pertanian perkotaan (urban agriculture) yang merangkul juga nilai-nilai rekreasi dan hiburan.
Bahasan teknis pertanian meliputi langkah pembibitan dan pemeliharaan, mengenali hama dan penyakit tanaman cabai, kemudian tentang panen dan pascapanen. Informasinya disampaikan dengan sederhana, juga jelas.
Tunggu apalagi ?
Ketika suatu saat kelak harga cabai kembali melambung tinggi, saya harap Anda sudah tidak pusing-pusing lagi. Tidak hanya dapur Anda saja, juga bahkan warga dunia, kini menanti Anda sebagai teladan dalam berkiprah budi daya cabai rawit dari halaman sekitar rumah Anda.
Mulailah segera.
Hari ini juga !
Wonogiri, 5-6/2/2011
Email : indolocavore (at) gmail.com
Tetapi ia punya solusi yang menginspirasi.
Dengan bertanam cabai di rumahnya sendiri.
Menteri Perdagangan itu sesusai bertemu Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Kamis, 6/1/2011, berkata kepada wartawan : "Pengumuman, saya sudah menanam 200 pohon cabai di rumah, memakai pot-pot. Saya ajak konsumen untuk ikut menanam," ujarnya.
Menteri Pertanian Suswono beberapa hari kemudian (6/1/2011) menimpali, bahwa langkah pemerintah untuk mengatasi krisis cabai adalah mengajak masyarakat menanam pohon cabai di halaman rumah masing-masing. "Ini kebiasaan yang harus dicanangkan kembali karena menanam cabai itu mudah. Tak punya halaman saja, bisa pakai pot dan lainnya," paparnya lagi.
Anjuran para menteri itu terkait kenyataan pahit, betapa lonjakan harga cabai menjadi penyumbang angka inflasi yang signifikan tinggi di pada bulan Januari 2011 yang baru berlalu.
Bersiap diri ke depan. Anjuran Presiden SBY agar warga sudi bertanam cabai di rumah, yang disuarakan para pembantunya itu, baik pula untuk kita camkan. Walau sebenarnya, anjuran itu bukan hal yang baru.
Apabila Anda terjun meriset di Internet, Anda akan menemui banyak petunjuk mengenai budi daya tanaman cabai dalam pot. Misalnya blog Info Agrobisnis, blog Bertani Mandiri, laporan ilmiah mahasiswa IPB Bogor , Pendi Nainggolan dan kawan-kawan yang berjudul Budi Daya Cabai Dalam Pot Sebagai Penyejuk Pekarangan Rumah Dan Bermanfaat Bagi Kebutuhan Dapur sampai blog berisi ajakan "Berkebun Cabai Yuk" untuk para remaja dari Daniezha yang berdomisili di Semarang.
Panduan yang lebih menarik dan lengkap dapat direguk dari buku karya dosen Institut Pertanian Bogor (IPB), Ir. Purwono, MS yang berjudul Bertanam Cabai Rawit Dalam Pot (AgroMedia Pustaka, 2003, foto di atas). Ketika milang-miling di rak buku Perpustakaan Umum Wonogiri, saya seperti kejatuhan durian untuk segera tergerak membaca-baca buku ini.
Dari buku ini saya baru tahu bahwa tanaman cabai memiliki banyak manfaat dan khasiat. Antara lain sebagai "obat" pelangsing tubuh sesuai hasil penelitian di Universitas Tasmania, Australia, kemudian daunnya dapat menyembuhkan sakit eksim, serbuk cabai berguna obat sakit reumatik, dan kembali daunnya dapat kita manfaatkan sebagai obat sakit perut (h.11).
Sebelumnya kita dibukakan wawasan mengenai sejarah tanaman cabai, klasifikasi, sampai jenis-jenis cabai rawit. Kemudian kita dibimbing untuk mengetahui pelbagai keuntungan bertanam cabai dalam wadah, yang antara lain : kita dapat mengoptimalkan pekarangan sempit dan dapat memanfaatkan barang-barang bekas sebagai wadah penanaman.
Ada nilai plus lain yang disebutkan oleh penulis, bahwa "tanaman yang ditanam tidak hanya dapat dipetik buahnya, tetapi juga dapat dinikmati nilai keindahannya" (h. 12-13). Informasi terakhir ini sejalan dengan filosofi pertanian perkotaan (urban agriculture) yang merangkul juga nilai-nilai rekreasi dan hiburan.
Bahasan teknis pertanian meliputi langkah pembibitan dan pemeliharaan, mengenali hama dan penyakit tanaman cabai, kemudian tentang panen dan pascapanen. Informasinya disampaikan dengan sederhana, juga jelas.
Tunggu apalagi ?
Ketika suatu saat kelak harga cabai kembali melambung tinggi, saya harap Anda sudah tidak pusing-pusing lagi. Tidak hanya dapur Anda saja, juga bahkan warga dunia, kini menanti Anda sebagai teladan dalam berkiprah budi daya cabai rawit dari halaman sekitar rumah Anda.
Mulailah segera.
Hari ini juga !
Wonogiri, 5-6/2/2011
Kamis, 03 Februari 2011
Era Pangan Murah Sudah Berlalu, Waspadalah !
Oleh : Bambang Haryanto
Email : indolocavore (at) gmail.com
Ulama pun protes soal beras.
Bukan ulama biasa.
Tetapi Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.
Sebagaimana dikutip Antara (2/2/2011), Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengkritik kebijakan pemerintah dalam menghadapi ancaman krisis pangan dengan mengimpor beras dan membebaskan bea masuk 57 produk pangan karena dinilai merugikan petani di dalam negeri.
"Sulit rasanya untuk mengatakan bahwa kebijakan ini berpihak kepada petani," kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj usai penyerahan sumbangan DPP PKB Rp1 miliar untuk PBNU di Jakarta, Rabu.
Dikatakannya, kebijakan pemerintah mengimpor beras saat petani panen raya pada Januari-Maret, pembebasan bea masuk 57 produk pangan, dan rendahnya serapan gabah petani adalah indikasi nyata bahwa para pejabat terkait tidak cerdas dalam menafsirkan komitmen politik pertanian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
"Bayangkan, sesuatu yang terjadi secara rutin setiap tahun, tapi tidak bisa diantisipasi dengan kebijakan yang strategis," katanya.
Tanda bahaya. Keprihatinan Ketua PBNU itu semoga menjadi sinyal yang tidak bisa kita abaikan. Masalah pangan merupakan masalah yang serius. Badan pangan dunia FAO juga mengisyaratkan betapa dunia di ambang krisis pangan yang bahkan digambarkan krisis kali ini akan mengancam perdamaian dan stabilitas dunia.
"Era pangan murah sudah berlalu," demikian simpul Sir John Beddington, kepala penasehat ilmu pengetahuan dari pemerintah Inggris. Milyaran penduduk dunia masih kelaparan. Populasi menanjak secara cepat. Laporan itu menandaskan bahwa petani, politisi, ekonom dan kalangan ilmuwan dituntut menemukan solusi dalam meningkatkan produksi pangan yang lebih efisien yang juga terkait dengan masalah air dan energi.
Peran kita. Ancaman krisis pangan dunia itu semoga tidak kita tanggapi dengan taktik burung unta. Dengan menganggap ancaman itu seolah hanya menjadi persoalan utama bangsa Afrika, yang jauh dari kita. Melainkan kita harus tidak menutup mata betapa pada awal bulan lalu kita digemparkan berita kematian enam anak dari keluarga Jamhamid-Siti Sunayah yang mengonsumsi tiwul beracun di desa Jebol, Mayong, Jepara. Realitas memilukan itu menunjukkan betapa bencana itu tidak jauh dari diri kita di Indonesia ini.
Ketika dunia semakin menyatu, maka tidak pada tempatnya bila kita kemudian hanya sibuk mengingkari persoalan-persoalan global itu, di mana seolah dengan membenamkan kepala kita ke tanah dan kemudian mengangap semua masalah itu akan segera berlalu dengan sendirinya.
Kita sebagai warga dunia harus segera berbaris ikut sebagai solusi. Adalah Dr Mike Pepler, UK Awards Manager dari Ashden Awards Inggris telah mengajukan solusi di mana kita semua sebagai warga negara mampu berperan serta dalam mengatasi ancaman krisis pangan dunia itu. Modal pertama, tentu saja adalah kepedulian dan kesadaran. Juga keinginan untuk menularkan pengetahuan yang ada, sehingga semakin banyak warga yang tergerak untuk melakukan hal mulia yang sama.
Hanya tiga langkah mudah berikut ini :
Jangan sia-siakan makanan. Makanan yang terbuang tidak hanya membuang makanan bersangkutan, tetapi juga segala hal yang dibutuhkan untuk menghasilkan makanan tersebut. Termasuk air, pupuk, pestisida, diesel (untuk mesin pertanian dan sarana transportasinya), listrik (untuk penyimpanan), kemasan dan juga energi yang Anda gunakan di rumah untuk menyimpan dan memasaknya.
Konsumsi daging lebih sedikit. Produksi daging jauh lebih banyak membutuhkan bahan bakar fosil dibanding memproduksi makanan, dan menyebabkan emisi gas rumah kaca yang lebih tinggi. Juga membutuhkan lahan yang lebih luas sebagaimana satwa mengonsumsi bahan pangan yang dapat dikonsumsi manusia, sehingga semakin banyak daging yang kita santap jelas kian mengurangi sediaan pangan secara total.
Gaya hidup locavore. Bercocok tanamlah sendiri di rumah Anda. Menanam beberapa tanaman bahan pangan di sekitar rumah Anda merupakan kegiatan yang mudah dilakukan. Dengan cara ini pula Anda dapat menumbuhkannya secara organik dan menghindari pemakaian bahan-bahan kimia. Bahan pangan itu juga tidak perlu diangkut dari tempat lain yang jauh, karena telah tersedia dalam beberapa langkah dari dapur Anda.
Peran serta aktif Anda kini dinantikan oleh dunia.
Oleh sesama umat manusia.
PS : Info lebih lanjut tentang foto dapat Anda klik disini.
Wonogiri,4/2/2011
Email : indolocavore (at) gmail.com
Ulama pun protes soal beras.
Bukan ulama biasa.
Tetapi Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.
Sebagaimana dikutip Antara (2/2/2011), Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengkritik kebijakan pemerintah dalam menghadapi ancaman krisis pangan dengan mengimpor beras dan membebaskan bea masuk 57 produk pangan karena dinilai merugikan petani di dalam negeri.
"Sulit rasanya untuk mengatakan bahwa kebijakan ini berpihak kepada petani," kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj usai penyerahan sumbangan DPP PKB Rp1 miliar untuk PBNU di Jakarta, Rabu.
Dikatakannya, kebijakan pemerintah mengimpor beras saat petani panen raya pada Januari-Maret, pembebasan bea masuk 57 produk pangan, dan rendahnya serapan gabah petani adalah indikasi nyata bahwa para pejabat terkait tidak cerdas dalam menafsirkan komitmen politik pertanian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
"Bayangkan, sesuatu yang terjadi secara rutin setiap tahun, tapi tidak bisa diantisipasi dengan kebijakan yang strategis," katanya.
Tanda bahaya. Keprihatinan Ketua PBNU itu semoga menjadi sinyal yang tidak bisa kita abaikan. Masalah pangan merupakan masalah yang serius. Badan pangan dunia FAO juga mengisyaratkan betapa dunia di ambang krisis pangan yang bahkan digambarkan krisis kali ini akan mengancam perdamaian dan stabilitas dunia.
"Era pangan murah sudah berlalu," demikian simpul Sir John Beddington, kepala penasehat ilmu pengetahuan dari pemerintah Inggris. Milyaran penduduk dunia masih kelaparan. Populasi menanjak secara cepat. Laporan itu menandaskan bahwa petani, politisi, ekonom dan kalangan ilmuwan dituntut menemukan solusi dalam meningkatkan produksi pangan yang lebih efisien yang juga terkait dengan masalah air dan energi.
Peran kita. Ancaman krisis pangan dunia itu semoga tidak kita tanggapi dengan taktik burung unta. Dengan menganggap ancaman itu seolah hanya menjadi persoalan utama bangsa Afrika, yang jauh dari kita. Melainkan kita harus tidak menutup mata betapa pada awal bulan lalu kita digemparkan berita kematian enam anak dari keluarga Jamhamid-Siti Sunayah yang mengonsumsi tiwul beracun di desa Jebol, Mayong, Jepara. Realitas memilukan itu menunjukkan betapa bencana itu tidak jauh dari diri kita di Indonesia ini.
Ketika dunia semakin menyatu, maka tidak pada tempatnya bila kita kemudian hanya sibuk mengingkari persoalan-persoalan global itu, di mana seolah dengan membenamkan kepala kita ke tanah dan kemudian mengangap semua masalah itu akan segera berlalu dengan sendirinya.
Kita sebagai warga dunia harus segera berbaris ikut sebagai solusi. Adalah Dr Mike Pepler, UK Awards Manager dari Ashden Awards Inggris telah mengajukan solusi di mana kita semua sebagai warga negara mampu berperan serta dalam mengatasi ancaman krisis pangan dunia itu. Modal pertama, tentu saja adalah kepedulian dan kesadaran. Juga keinginan untuk menularkan pengetahuan yang ada, sehingga semakin banyak warga yang tergerak untuk melakukan hal mulia yang sama.
Hanya tiga langkah mudah berikut ini :
Jangan sia-siakan makanan. Makanan yang terbuang tidak hanya membuang makanan bersangkutan, tetapi juga segala hal yang dibutuhkan untuk menghasilkan makanan tersebut. Termasuk air, pupuk, pestisida, diesel (untuk mesin pertanian dan sarana transportasinya), listrik (untuk penyimpanan), kemasan dan juga energi yang Anda gunakan di rumah untuk menyimpan dan memasaknya.
Konsumsi daging lebih sedikit. Produksi daging jauh lebih banyak membutuhkan bahan bakar fosil dibanding memproduksi makanan, dan menyebabkan emisi gas rumah kaca yang lebih tinggi. Juga membutuhkan lahan yang lebih luas sebagaimana satwa mengonsumsi bahan pangan yang dapat dikonsumsi manusia, sehingga semakin banyak daging yang kita santap jelas kian mengurangi sediaan pangan secara total.
Gaya hidup locavore. Bercocok tanamlah sendiri di rumah Anda. Menanam beberapa tanaman bahan pangan di sekitar rumah Anda merupakan kegiatan yang mudah dilakukan. Dengan cara ini pula Anda dapat menumbuhkannya secara organik dan menghindari pemakaian bahan-bahan kimia. Bahan pangan itu juga tidak perlu diangkut dari tempat lain yang jauh, karena telah tersedia dalam beberapa langkah dari dapur Anda.
Peran serta aktif Anda kini dinantikan oleh dunia.
Oleh sesama umat manusia.
PS : Info lebih lanjut tentang foto dapat Anda klik disini.
Wonogiri,4/2/2011
Kamis, 27 Januari 2011
Locavore Indonesia : Awal Sebuah Revolusi
Oleh : Bambang Haryanto
Email :indolocavore (at) gmail.com
Locavore.
Sudahkah Anda kenal istilah eksotis ini ?
Saya ketabrak istilah itu gara-gara cabai.
Ceritanya, kemarin (19/1/2011) saya memperoleh kabar mutakhir tentang cabi itu dari penjual mi ayam Mas Djan di Wonogiri. mBaknya baru pulang dari pasar, dan mengeluh. Ia baru saja membeli cabai seperempat kilogram dengan harga gila-gilaan.
"Satu kilogram cabai rawit,harganya masih seratus ribu rupiah," katanya.Beberapa hari sebelumnya, koran lokal mewartakan betapa harga cabe satu klethus senilai rupiah sebanyak tiga ratus !
Pagi ini (20/1/2011), mungkin karena benak ini terus dihantui harga cabai itu, ketika membuka-buka situs koran The Jakarta Globe, saya tertabrak istilah locavore itu dalam artikel yang inspiratif. Artikel tentang revolusi upaya memperkuat ketahanan pangan bagi warga Indonesia.
Disitu, penulisnya, Magfirah Dahlan-Taylor yang kandidat PhD bidang perencanaan, tatalaksana dan globalisasi dari Virginia Tech (AS), mewedar gagasan menarikTentang revolusi memperkuat daya tahan pengadaan pangan di negara kita ini melalui upaya pemanfaatan halaman kebun rumah-rumah kita.
Kunci keberhasilan gagasan mulia ini, menurut beliau, harus dimulai dari pola pikir, mindset kita-kita semua.
Ia lalu merujuk ikhtiar Michelle Obama, yang berkebun tanaman sayuran di kompleks Gedung Putih. Aksi mulia Ibu Negara AS itu, menurutnya, sejalan dengan tren gerakan masyarakat di AS yang berlabel locavore, walau ada juga yang menyebut localvore.
Gerakan itu pada intinya berusaha mendekatkan sumber makanan kepada konsumen yang selama ini terbiasa mengambil makanan dari rak-rak di pasar-pasar swalayan ketimbang langsung dari tanaman. Dengan gerakan ini kita diajak mengonsumsi makanan-makanan hasil budi daya lokal.
Selain lebih murah, karena tidak terbebani biaya pajak sampai transportasi [baca kisah menarik dari mBak Bea, warga Indonesia yang kini tinggal di Perancis ketika kangen makanan asal Indonesia], kita juga diajak dan diajar untuk mengetahui ikhtiar apa saja yang membuat tanaman itu tumbuh.
Misalnya, apakah memakai pupuk kimia ataukah pupuk organik ? Merujuk hal itu, jelaslah pula bila gerakan locavore itu juga berimpit dengan misi gerakan pelestarian lingkungan hidup. Dan menurutnya, harus digairahkan sejak dini di bangku-bangku pendidikan kita.
Terima kasih, Ibu Magfirah Dahlan-Taylor.
Bagaimana sikap kita ? Mumpung kita semua masih merasakan shock, termasuk bila Anda membaca berita yang mengabarkan harga cabai mampu mencapai seperempat juta rupiah per kilogramnya, semoga tanda bahaya rawan pangan itu, yang juga berpotensi menjalar ke komoditas pertanian lainnya, mampu menginspirasi kita untuk mulai bergerak. Dimulai dari hal kecil, dari diri kita, dari rumah kita, dan sebaiknya kita lakukan sekarang juga.
Bertani modal kaleng. Bagi saya, imbauan di atas itu ibarat memutar kembali lagu lama dengan aransemen baru. Sedikit bernostalgia, di tahun 1998 ketika badai krisis moneter menggebuk Indonesia yang membuat saya harus pulang kampung ke Wonogiri setelah ngendon di Jakarta lebih dari 18 tahun, saya sempat membuat isu kecil-kecilan dan gerakan berkebun tanaman sayuran di halaman rumah sendiri.
Saya mengajak warga, misalnya dengan memanfaatkan lahan terbatas dan bahkan kaleng-kaleng bekas cat, untuk berkebun tanaman cabai, sawi, kangkung, sampai kacang panjang. Saya bahkan berbisnis benih-benih tanaman sayuran itu, juga pupuk organik, dengan label Optimis melalui jasa pos. Gagasan itu saya sebarkan dan promosikan melalui kolom-kolom surat pembacadi pelbagai surat kabar.
Cerita jadul itu sempat juga saya tulis di blog Esai Epistoholica pada bulan Agustus 2005. Potongannya : "Bisnis pertanian melalui surat pembaca juga pernah saya terjuni. Akibat krismon di awal 1998, saya pun harus hengkang dari Jakarta. Kembali mudik ke Wonogiri.
Dalam perjalanan bis Solo-Wonogiri, saya temukan penjaja asongan yang menawarkan produk unik. Yaitu paket kecil berisi sepuluh jenis biji-bijian, benih tanaman sayuran. Ada bayam, kangkung, lombok, sawi, tomat, gambas sampai mentimun. Saya membeli dan minta alamat penjualnya. Dirinya tinggal di daerah Sukoharjo. Harga satu paket, Rp. 1.000. Kalau belinya banyak, harganya Rp. 600 per paket.
Pertanian adalah subjek yang saya buta sama sekali. Saya anak tentara, bukan anak petani. Selama 18 tahun saya pun tinggal di Jakarta. Kini tiba saatnya, pikir saya, untuk belajar menjadi petani. Saya segera mencari info ke Departemen Pertanian. Bahkan kemudian menemukan tempat yang menjual pupuk organik. Juga membaca-baca majalah pertanian Trubus yang terkenal itu.
Di masa krisis moneter itu cabai harganya mencapai puluhan ribu per kilogram, aku pikir, gerakan swadesi alias mencukupi kebutuhan diri sendiri model Mahatma Gandhi (foto di atas) sebaiknya dicoba untuk dipromosikan."
Revolusi kita bersama. Anda sebagai warga negara Indonesia di mana pun Anda berada, apakah kira-kira kini menjadi ikut tertarik dan kemudian tergerak untuk ikut dalam revolusi locavore yang coba ikut saya sebarkan melalui blog ini ?
Hanya Anda yang bisa memastikannya.
Harapan saya : semoga obrolan tentang cekikan harga cabai, gerakan locavore, dan inspirasi dari Mahatma Gandhi ini mampu membawa manfaat bagi kita semua. Mari kita mulai beraksi. Demi kesejahteraan Anda pribadi, keluarga Anda, lingkungan Anda, dan kita semua.
Anda punya pendapat menarik tentang hal ini ?
Atau ingin berbagi inspirasi dan pengalaman ?
Saya menantikannya.
Terima kasih sebelumnya saya haturkan kepada Anda.
Wonogiri, 28/1/2011
PS : Saat ini saya memelihara 8-10 tanaman cabai.Ditanam sambil lalu saja. Walau tak begitu lebat, saya masih bisa mengonsumsi sayuran favorit ini, untuk diganyang menemani tempe mendoan.
lcv
Email :indolocavore (at) gmail.com
Sudahkah Anda kenal istilah eksotis ini ?
Saya ketabrak istilah itu gara-gara cabai.
Ceritanya, kemarin (19/1/2011) saya memperoleh kabar mutakhir tentang cabi itu dari penjual mi ayam Mas Djan di Wonogiri. mBaknya baru pulang dari pasar, dan mengeluh. Ia baru saja membeli cabai seperempat kilogram dengan harga gila-gilaan.
"Satu kilogram cabai rawit,harganya masih seratus ribu rupiah," katanya.Beberapa hari sebelumnya, koran lokal mewartakan betapa harga cabe satu klethus senilai rupiah sebanyak tiga ratus !
Pagi ini (20/1/2011), mungkin karena benak ini terus dihantui harga cabai itu, ketika membuka-buka situs koran The Jakarta Globe, saya tertabrak istilah locavore itu dalam artikel yang inspiratif. Artikel tentang revolusi upaya memperkuat ketahanan pangan bagi warga Indonesia.
Disitu, penulisnya, Magfirah Dahlan-Taylor yang kandidat PhD bidang perencanaan, tatalaksana dan globalisasi dari Virginia Tech (AS), mewedar gagasan menarikTentang revolusi memperkuat daya tahan pengadaan pangan di negara kita ini melalui upaya pemanfaatan halaman kebun rumah-rumah kita.
Kunci keberhasilan gagasan mulia ini, menurut beliau, harus dimulai dari pola pikir, mindset kita-kita semua.
Ia lalu merujuk ikhtiar Michelle Obama, yang berkebun tanaman sayuran di kompleks Gedung Putih. Aksi mulia Ibu Negara AS itu, menurutnya, sejalan dengan tren gerakan masyarakat di AS yang berlabel locavore, walau ada juga yang menyebut localvore.
Gerakan itu pada intinya berusaha mendekatkan sumber makanan kepada konsumen yang selama ini terbiasa mengambil makanan dari rak-rak di pasar-pasar swalayan ketimbang langsung dari tanaman. Dengan gerakan ini kita diajak mengonsumsi makanan-makanan hasil budi daya lokal.
Selain lebih murah, karena tidak terbebani biaya pajak sampai transportasi [baca kisah menarik dari mBak Bea, warga Indonesia yang kini tinggal di Perancis ketika kangen makanan asal Indonesia], kita juga diajak dan diajar untuk mengetahui ikhtiar apa saja yang membuat tanaman itu tumbuh.
Misalnya, apakah memakai pupuk kimia ataukah pupuk organik ? Merujuk hal itu, jelaslah pula bila gerakan locavore itu juga berimpit dengan misi gerakan pelestarian lingkungan hidup. Dan menurutnya, harus digairahkan sejak dini di bangku-bangku pendidikan kita.
Terima kasih, Ibu Magfirah Dahlan-Taylor.
Bagaimana sikap kita ? Mumpung kita semua masih merasakan shock, termasuk bila Anda membaca berita yang mengabarkan harga cabai mampu mencapai seperempat juta rupiah per kilogramnya, semoga tanda bahaya rawan pangan itu, yang juga berpotensi menjalar ke komoditas pertanian lainnya, mampu menginspirasi kita untuk mulai bergerak. Dimulai dari hal kecil, dari diri kita, dari rumah kita, dan sebaiknya kita lakukan sekarang juga.
Bertani modal kaleng. Bagi saya, imbauan di atas itu ibarat memutar kembali lagu lama dengan aransemen baru. Sedikit bernostalgia, di tahun 1998 ketika badai krisis moneter menggebuk Indonesia yang membuat saya harus pulang kampung ke Wonogiri setelah ngendon di Jakarta lebih dari 18 tahun, saya sempat membuat isu kecil-kecilan dan gerakan berkebun tanaman sayuran di halaman rumah sendiri.
Saya mengajak warga, misalnya dengan memanfaatkan lahan terbatas dan bahkan kaleng-kaleng bekas cat, untuk berkebun tanaman cabai, sawi, kangkung, sampai kacang panjang. Saya bahkan berbisnis benih-benih tanaman sayuran itu, juga pupuk organik, dengan label Optimis melalui jasa pos. Gagasan itu saya sebarkan dan promosikan melalui kolom-kolom surat pembacadi pelbagai surat kabar.
Cerita jadul itu sempat juga saya tulis di blog Esai Epistoholica pada bulan Agustus 2005. Potongannya : "Bisnis pertanian melalui surat pembaca juga pernah saya terjuni. Akibat krismon di awal 1998, saya pun harus hengkang dari Jakarta. Kembali mudik ke Wonogiri.
Dalam perjalanan bis Solo-Wonogiri, saya temukan penjaja asongan yang menawarkan produk unik. Yaitu paket kecil berisi sepuluh jenis biji-bijian, benih tanaman sayuran. Ada bayam, kangkung, lombok, sawi, tomat, gambas sampai mentimun. Saya membeli dan minta alamat penjualnya. Dirinya tinggal di daerah Sukoharjo. Harga satu paket, Rp. 1.000. Kalau belinya banyak, harganya Rp. 600 per paket.
Pertanian adalah subjek yang saya buta sama sekali. Saya anak tentara, bukan anak petani. Selama 18 tahun saya pun tinggal di Jakarta. Kini tiba saatnya, pikir saya, untuk belajar menjadi petani. Saya segera mencari info ke Departemen Pertanian. Bahkan kemudian menemukan tempat yang menjual pupuk organik. Juga membaca-baca majalah pertanian Trubus yang terkenal itu.
Di masa krisis moneter itu cabai harganya mencapai puluhan ribu per kilogram, aku pikir, gerakan swadesi alias mencukupi kebutuhan diri sendiri model Mahatma Gandhi (foto di atas) sebaiknya dicoba untuk dipromosikan."
Revolusi kita bersama. Anda sebagai warga negara Indonesia di mana pun Anda berada, apakah kira-kira kini menjadi ikut tertarik dan kemudian tergerak untuk ikut dalam revolusi locavore yang coba ikut saya sebarkan melalui blog ini ?
Hanya Anda yang bisa memastikannya.
Harapan saya : semoga obrolan tentang cekikan harga cabai, gerakan locavore, dan inspirasi dari Mahatma Gandhi ini mampu membawa manfaat bagi kita semua. Mari kita mulai beraksi. Demi kesejahteraan Anda pribadi, keluarga Anda, lingkungan Anda, dan kita semua.
Anda punya pendapat menarik tentang hal ini ?
Atau ingin berbagi inspirasi dan pengalaman ?
Saya menantikannya.
Terima kasih sebelumnya saya haturkan kepada Anda.
Wonogiri, 28/1/2011
PS : Saat ini saya memelihara 8-10 tanaman cabai.Ditanam sambil lalu saja. Walau tak begitu lebat, saya masih bisa mengonsumsi sayuran favorit ini, untuk diganyang menemani tempe mendoan.
lcv
Label:
bambang haryanto,
carbon print,
cinta lingkungan hidup,
harga cabai,
ketahanan pangan,
lahan sempit,
locavore,
mahatma gandhi,
michelle obama,
pertanian urban,
swadesi,
wonogiri
Langganan:
Postingan (Atom)
